Perjamuan di Jagatha Vadhi
Cahaya menyilaukan muncul saat Rafa membuka mata. Kemudian ia mendapati pemandangan ganjil di sekelilingnya. Daratan luas berwarna merah darah, dengan sekumpulan makhluk aneh yang berada di tempat itu. Termasuk makhluk besar bersayap hitam yang pernah menyerangnya tempo hari. Makhluk bernama Hvyt itu berjumlah banyak dan tampak serupa bagai pasukan yang menjaga tempat itu.
"Jagadha Vadhi? Dewa Thurqk? Alam kematian? Omong kosong!" gumam Rafa sambil menyimak perkataan Hvyt. Pikiran Rafa membantah semua perkataan Hvyt. Ia merasa dirinya masih hidup. Ia menduga dirinya telah diculik anak buah Helios dan akan dijadikan kelinci percobaan dalam riset ilmiah mereka.
Rafa memutar otak, mencari celah untuk melarikan diri dari tempat itu. Ia mengamati sekumpulan makhluk di sekelilingnya. Sebagian di antara mereka terlihat normal, berpenampilan layaknya manusia pada umumnya. Ada laki-laki dan perempuan sebaya, remaja, dan anak-anak. Sebagian lainnya tampak seperti makhluk jadi-jadian, sejenis mutan, siluman, bahkan 2 makhluk jelly kenyal warna biru juga berdiri di sana.
Rafa menghampiri mereka. Mencari Shiren yang kemungkinan juga berada di tempat itu. Sayangnya, ia tak menemukan Shiren di antara mereka. Ia malah bertemu dengan para gadis dengan tatapan mata yang sinis.
Rafa tak sudi berlama-lama di tempat itu. Ia harus segera pergi untuk menyelamatkan Shiren. Disaat para Hvyt meninggalkan tempat itu, Rafa memanjat pohon Ratcha yang tumbuh dengan lebat. Ia menduga tempat itu berada di atas awan atau paling tidak berada di atas ketinggian setara dengan gunung karena ia dapat melihat gumpalan awan berarak di dekat tempat itu.
Rafa memeriksa pakaiannya. Ia memakai hoodie yang terbuat dari parasut, agak mirip dengan wingsuit miliknya. Pakaian yang bisa membantunya melayang di udara.
Rafa telah berada di puncak pohon dan langsung melompat. Ia sempat melayang di udara sejenak. Namun sebuah sulur tiba-tiba melilit kakinya. Sulur tersebut menyeret Rafa. Lalu menghempaskannya ke daratan Jagadha Vadhi dengan keras.
"Argh! Hidungku!" keluh Rafa yang merasakan hidungnya patah terbentur lantai pualam.
***
"Sial!" maki Rafa
sambil mengusap hidungnya yang berdarah. Ia bangkit lalu duduk bersila di
tanah. Mengamati sekeliling yang mulai ramai oleh ulah para mutan.
Seekor boneka beruang sedang berlari dikejar oleh seorang gadis penyuka permen. Seorang lelaki bangsawan sedang bercakap-cakap dengan sang pustakawan. Gadis yang dikerubuti lalat sedang berbicara dengan perempuan bertopi hitam. Gadis tak bermulut sedang bersama si pemelihara harimau. Adapula orang yang tertidur di bawah pohon. Rafa mendengus.
"Tidak adakah orang normal di sini?" Ia heran melihat mereka yang tampak menikmati berada di tempat itu. Tak ada yang berniat kabur seperti dirinya.
Rafa sempat ingin berkenalan dengan mereka. Tapi ia segera menepis keinginannya. "Ah, masa bodoh dengan mereka. Bisa jadi mereka kaki tangan Helios. Tak ada yang bisa dipercaya di tempat asing seperti ini," batin Rafa.
Rafa beranjak mendekati pohon Rachta. Ia memperhatikan pohon merah itu dengan seksama. Pohon besar dengan buah warna merah darah. "Mana sulurnya?" Ia tak menemukan sulur yang telah membantingnya tadi.
Kali ini Rafa memanjat dengan
lebih berhati-hati. Sulur-sulur bermunculan ketika Rafa hampir mencapai puncak
pohon. Menjulur mendekat. Kakinya mulai terlilit. Ia berhenti memanjat dan
bertengger di cabang pohon. Sulur itu berhenti bergerak.
Rafa menghela napas. Ia mencoba mengalihkan perhatian sulur itu dengan memetik buah Rachta. Sulur itu malah melepas lilitan di kaki Rafa. Membiarkan Rafa memetik buah Rachta sepuasnya. Rafa meloncat turun dari pohon. Sulur itu tak bereaksi.
Rafa duduk bersandar di bawah pohon dengan banyak buah Rachta di pangkuannya. Ia ragu untuk memakannya karena baru kali ini ia melihat buah semacam itu. Buah itu beraroma manis. Dan sepertinya cocok untuk menyegarkan kerongkongannya yang kering. Tapi Rafa curiga jika buah itu beracun.
Terngiang di telinga Rafa suara
Hvyt yang menjelaskan tentang buah Rachta. "....Setelah aku pergi nanti,
kalian akan melihat tempat ini dipenuhi oleh tanaman yang seluruh bagian
penampangnya berwarna merah, pohon Rachta. Pohon yang bisa kalian pakai untuk
apapun, termasuk memuaskan rasa lapar, haus, obat-obatan, atau hal lainnya.
Tempat ini juga akan selalu menjadi tempat peristirahatan kalian. Oh ya, jangan
berpikir untuk bisa kabur dari tempat ini, karena seperti apa pun kemampuan
yang kalian miliki, tak akan bisa kalian gunakan untuk menembus pertahanan yang
ada di tempat ini."
Kemudian disambung dengan perkataan Hvyt : "...Tenang saja, kalian akan merasa hidup sepenuhnya, namun tidak akan bisa mati untuk kedua kalinya."
"Tak ada salahnya dicoba," gumam Rafa sambil menggigit buah Rachta. Rasanya hambar dan membuat lidahnya kebas. Kerongkongannya terasa tercekik. Disusul sesak napas, kepala pening dan halusinasi. Gejala keracunan.
Cincin raksasa itu muncul dalam penglihatan Rafa. Pemandangan yang semula samar, kini menjadi jelas. Rangkaian kejadian itu menjadi kenangan yang melengkapi ingatannya. Kenangan masa kecilnya saat berada di planet Gliese 518g bersama Freon. Rafa kecil sedang berlatih kemampuannya mengendalikan elemen di bawah pengawasan Freon. Rafa ingat jika Freon memanggilnya dengan nama Grafit.
Freon mengajari Rafa memunculkan api dengan menjentikkan jarinya. Rafa berhasil melakukannya setelah beberapa kali mencoba. Kemudian Freon mengajari Rafa mengendalikan elemen air dan udara. Bukan hanya mengendalikan elemen yang tersedia, melainkan mematerialisasikan partikel dan molekul bebas di udara menjadi zat cair, gas dan api. Molekul yang sering digunakan adalah uap air, oksigen, hydrogen, karbondioksida dan nitrogen. Freon menegaskan jika Rafa harus tanggap dengan kandungan zat-zat tersebut di sekitarnya. Mengenali keberadaan mereka dan mengunakannya secara tepat.
Suara ledakan di kejauhan mengejutkan Rafa. Ledakan itu berasal dari laboraturium tempat Ayahnya bekerja. Rafa bergegas berlari menuju sumber ledakan.
Freon mencegat langkah Rafa. Ia membopong Rafa dan membawanya menjauh dari tempat itu.
“Lepaskan aku! Aku harus
menemui Ayah!” ronta Rafa kecil dalam gendongan Freon.
“Tenanglah, Nak. Ayahmu bisa menjaga diri. Kita harus secepatnya pergi dari planet ini sebelum kehancuran terjadi.” Freon memaksa Rafa masuk ke dalam pesawat luar angkasa dan mengekangnya dengan sabuk pengaman di kursi.
Pesawat lepas landas meninggalkan planet Gliese 518g yang mulai mengalami keruntuhan. Dari monitor pesawat, Rafa melihat menara katai merah meledak dan hancur.
“Kencangkan sabuk pengamanmu. Bersiaplah, kita akan melintasi portal dimensi menuju Bumi,” perintah Freon sambil menembakkan laser pencipta mini ‘black hole’ ke angkasa.
Portal antar dimensi terbuka. Pesawat itu melesat dan terhisap ke dalam pusaran kegelapan. Kemudian muncul di sekitar atmosfer Bumi. Keberadaan portal antar dimensi sanggup memperpendek jarak tempuh dari planet Gliese 518g menuju Bumi.
***
-Kembali ke Jagatha Vadhi-
Rafa berusaha memuntahkan buah Rachta yang tersangkut di kerongkongannya. Cuilan buah itu bagai mata pancing yang menusuk dinding kerongkongan. Setelah bersusah payah, akhirnya cuilan buah Rachta bisa ia keluarkan. Rafa menghela napas lega. Ia berusaha menenangkan diri sebelum melakukan hal lain.
Rafa masih duduk di tanah. Ia mencoba menjentikkan jemari-nya. Dan ada percikan api muncul di tangannya. Rafa menyeringai. Ia berdiri lalu menatap pohon Rachta dengan wajah kesal. Pohon itu telah dua kali mencelakainya. Diam-diam Rafa memantik api dengan jemarinya. Ia ingin membakar pohon Rachta sebagai balasan karena telah mencelakainya.
Rafa mengurungkan niatnya
membakar pohon ketika melihat seorang perempuan berambut dedaunan dan
berpakaian hijau sedang duduk di batang pohon selang 3 pohon darinya. Ia
melangkah menghampiri perempuan itu. Rafa menduga perempuan itu adalah penunggu
pohon yang harus bertanggung jawab atas kesialan yang menimpanya.
“Hai gadis penunggu pohon, suruh pohonmu berhenti menggangguku!” teriak Rafa dari bawah pohon.
Gadis hijau itu menoleh. “Hai Rafa, namaku Nema. Sebaiknya kau berhenti berulah agar tak celaka.” Nema terlihat enggan menanggapi pemuda pecicilan itu.
“Aku hanya ingin keluar dari tempat ini, tapi pohonmu selalu menghalangiku,” protes Rafa.
“Aku memang pengendali tanaman,
tapi aku bukan pemelihara pohon Rachta. Kesialan yang menimpamu akibat kecerobohanmu
sendiri!” ketus Nema yang merasa terusik.
“Hei anak muda, tidak sopan membentak perempuan!” tegur seekor harimau bertampang jinak yang menghampiri mereka.
Rafa mengernyitkan dahi. Ia
agak terkejut mendapati harimau yang bisa bicara layaknya manusia. “Bukankah
kamu hewan peliharaan gadis tanpa mulut itu?” selidik Rafa.
“Kamu keliru, aku Eza, peliharaan Tuanku Kara. Dan gadis pendiam itu bernama Silia,” jawab Eza.
Nema menoleh pada Eza dan tersenyum. Lalu melanjutkan obrolan menariknya dengan Stela. Ia tak berminat berdebat dengan Rafa. Tapi diam-diam ia menaburkan serbuk benih ke tubuh Rafa. Benih tumbuhan penyebab gatal. Serbuk itu jatuh di tudung hoodie Rafa yang terbuka. Stela terkikik menyaksikan perbuatan Nema.
“Oh, rupanya kamu harimau penyuka para gadis.” Rafa mendongak mendengar suara cekikikan Stela. “Hei! Apa yang kalian tertawakan?” bentak Rafa pada Nema dan Stela.
“Ada kebun rumput di tudungmu, hihihi…” sahut Stela sambil cekikikan.
Rafa meraih tudung hoodie-nya.
Ia menemukan sejumput rerumputan yang tumbuh di pakaiannya. Ujung rerumputan
itu tumbuh dengan pesat. Menjalari sekujur tubuhnya dan menebarkan rasa gatal.
“Sial! Dasar benalu!” umpat Rafa sambil menggaruk dan membuang rerumputan itu. Rafa belingsatan tersiksa rasa gatal. Ia mendengus kesal. Menahan amarah yang menguasainya. Ia tak tega melampiaskan amarahnya pada kedua gadis itu.
“Nona Nema, sebaiknya berikan obat penawar pada Rafa. Kasihan dia,” saran Eza.
“Biarkan saja, Eza. Rerumputan itu takkan melukainya. Cuma membuatnya gatal sementara waktu,” kilah Nema.
“Iya, biarkan saja. Dia pantas mendapatkannya,” Stela menimpali.
Rafa melangkah menjauh dari
pohon Rachta. Kepalan tangannya berpendar kemerahan. Tubuhnya memanas dan mulai
berasap. Ia sedang mengendalikan molekul karbon untuk menghalau rerumputan itu
dengan asap.
Rerumputan itu layu terkena asap. Rafa terbebas dari gatal-gatal yang menyiksanya. Ia menyingkirkan rerumputan yang telah layu dan melemparnya jauh-jauh.
“Benalu menyebalkan!” maki Rafa.
Rafa duduk selonjoran di tanah.
Ia ogah berdekatan dengan pepohonan lagi. Ia terdiam memandang seorang bocah
berbaju hijau kumal yang sedang bercakap-cakap dengan gadis pantomim.
Sepertinya sang Pantomim berhasil menghibur pengamen cilik itu. Bocah itu
tampak riang bergandengan tangan dengan gadis pantomim.
Rafa merebahkan dirinya di tanah. Menjadikan kedua tangannya sebagai bantal. Ia membandingkan nasib bocah kumal itu dengan dirinya. Bagai langit dan bumi. Rafa hidup berkecukupan sebagai anak pejabat korup sedangkan bocah itu nelangsa dan serba kekurangan.
Di saat pengamen cilik itu berpanas-panasan mengumpulan recehan, maka Rafa tinggal menadahkan tangan pada Ayahnya. Ia cukup menanyakan pada Ayahnya, “Adakah buah apel yang perlu dicuci atau kukupaskan, Papa?”. Seketika uang hasil korupsi itu mengalir ke rekeningnya. Rafa pandai mengatur keuangan dan berinvestasi. Sejauh ini gurita bisnis keluarganya lancar dan aman dari endusan pihak berwajib.
Ia merasa beruntung karena Freon memilihkan keluarga pejabat sebagai orangtuanya. Meskipun ia tak dapat mengingkari siksaan rasa bersalah ketika mengingat bahwa ada seorang anak yang telah dikorbankan demi dirinya. Freon membiarkan seorang anak mati tenggelam di bendungan demi memasukkan Rafa ke rumah pejabat itu.
***
Ingatan Rafa terlempar pada
kenangan sekian tahun yang lalu. Saat ia pertama menjejakkan kaki di Bumi
bersama Freon. Sewaktu dirinya masih menyandang nama Grafit.
“Anggaplah kamu menjadi peri pengganti dari bocah mati itu. Changeling. Kehadiranmu mengambil alih dan melanjutkan kehidupannya yang telah berakhir,” pesan Freon.
“Tidak mau! Aku akan menolong bocah itu. Kasihan dia,” bantah Grafit. Ia berusaha mengendalikan pusaran air agar bocah itu terangkat dari dasar bendungan. Usahanya sia-sia, kekuatannya terlalu lemah untuk mengangkat bocah itu.
“Percuma! Bocah itu telah mati, Grafit!” tegas Freon.
“Kita masih bisa menolongnya!” kilah Grafit. Ia menyesal karena tak segera menolong bocah itu saat jatuh tergelincir. Ia malah menuruti perintah Freon untuk membiarkannya.
Freon membopong Grafit. Mengajaknya menghampiri sekumpulan anak yang berkumpul di pinggir sungai. Mereka sedang bermain ‘leng pendem’, sejenis meriam bambu dengan peledak dari karbit. Freon membimbing para bocah itu membuat sebuah permainan baru yang lebih seru. Ia membuat rakit dari bilah bambu. Rakit yang cukup besar untuk mengangkut 7 anak sekaligus. Kemudian Freon memasang belasan meriam bambu sebagai roket pendorong rakit itu.
Anak-anak antusias dengan mainan baru yang dianggap keren itu. Mereka berebut menaiki rakit. Grafit patuh ketika Freon menyuruhnya ikut naik rakit.
Freon beraksi menyulut meriam bambu. Anak-anak bersorak kegirangan. Rakit itu meluncur di sungai. Mereka menganggap rakit itu layaknya kapal speedboat. Permainan bajak laut dimulai.
Permainan Freon juga dimulai. Mendadak rakit itu meledak dan terbakar. Anak-anak itu jatuh ke sungai. Mereka hanyut terseret arus sungai, termasuk Grafit.
***
Rafa meraba luka bakar di dagunya. Kenang-kenangan dari peristiwa naas itu. Akibat ledakan rakit itu, tubuh Grafit mengalami luka bakar parah pada bagian wajahnya. Sehingga keluarga bocah tenggelam itu salah mengenali Rafa sebagai anaknya. Grafit sempat mengelak dan mengakui bahwa dirinya bernama Grafit bukan Rafa yang mereka cari. (Bocah yang mati tenggelam di bendungan bernama Rafa). Namun keluarga Rafa tetap bersikukuh menganggapnya anak. Bahkan mereka membawanya keluar negri untuk menjalani operasi rekonstruksi wajah.
Usai operasi, wajahnya kembali pulih kecuali bekas luka bakar sepanjang 5cm di dagu. Bekas luka itu tak bisa hilang hingga ia dewasa. Karena merasa berhutang budi, ia bersedia menjadi anak mereka dengan syarat penambahan nama menjadi Rafa Grafito.
Sejak kejadian itu Freon
menghilang tanpa kabar. Ia melalaikan tugasnya sebagai pengasuh Grafit. Rafa merasa
telah dikhianati oleh Freon juga berkhianat pada jati dirinya. Maka ia sengaja
menghapus sebagian memorinya tentang planet Gliese 518 g dan Freon. Ia
menjalani hidup normal sebagai manusia biasa dengan menyembunyikan segala
kemampuannya. Ternyata jabat tangan Freon tempo hari telah mengaktifkan kembali
memori Rafa Grafito yang sempat terhapus.
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar