Minggu, 17 Agustus 2014

Persinggahan Terakhir di Cachani Vadhi


     “Petani, bedebah kalian! Keluarga dan teman-temanku kalian bantai dengan kejam!” umpat seekor ulat yang berjalan sempoyongan. Ulat itu klenger terkena semprotan cairan pembasmi hama.

     Sepenggal adegan dalam iklan pembasmi hama tersebut melintas di benak Rafa saat ia tiba di Cachani Vadhi. Dan kejadian berikutnya berkebalikan dengan adegan iklan. Beberapa ulat raksasa menyembul dari akar rerumputan warna merah setinggi 2 meter.

     Ulat-ulat itu berukuran setengah meter. Mereka mengunyah rumput dengan lahap. Sesekali mata besarnya menoleh ke arah Rafa.


     Rafa melangkah mundur ketika seekor ulat menghampirinya. Rafa merogoh senapan laser di sakunya. Bersiap menembak.


     “Jangan!” cegah Mba Irwin yang telah berdiri di hadapan Rafa. Kedua tangannya terentang menghalangi Rafa menembak ulat itu.

    Ulat itu beringsut menjauh dari Rafa dan Mba Irwin. Lalu menghilang di balik rimbun rerumputan.


    “Syukurlah, kamu selamat, Mba Irwin,” kata Rafa sambil memegang kedua bahu Mba.


    “Seharusnya aku bisa bertemu Antakaba jika makhluk bersayap itu tidak muncul menyelamatkanku.” Mba Irwin menepis tangan Rafa dari bahunya.


    Rafa tersenyum mendengar bunyi perut Mba Irwin. Ia juga merasa lapar usai bertarung di ronde pertama.

Rafa mengajak Mba Irwin mencari makanan. Tak ada pohon Rachta di tempat itu. Yang ada hanyalah rerumputan sejenis ilalang bernama Gavata.


    Rafa mencabut sebatang Gavata. Berharap menemukan umbi pada akarnya. Nihil. Akarnya hanya akar serabut bukan umbi. Pangkal tumbuhan itu menggembung mirip serai.


     Mba Irwin mengamati batang Gavata yang dipegang Rafa. Sebagai Peacemaker merangkap aktivis lingkungan, Mba nyaris hafal berbagai jenis tumbuhan dan binatang di hutan. Mba mengenali rumput Gavata sebagai tumbuhan yang masih sekerabat dengan tebu. Artinya pangkal Gavata mengandung cairan yang dapat diperas airnya.


     Mba Irwin mencabut sebatang Gavata, lalu memeras pangkalnya. Ia menyesap cairan kental yang keluar dari pangkal Gavata.


     “Cobalah, rasanya semanis jeruk,” kata Mba Irwin.


Agak ragu, Rafa mencicipi air perasan pangkal batang Gavata. Rasanya memang mirip air jeruk, tapi lebih kental dan lengket. Cairan itu lebih mirip getah.


    Ekor mata Rafa menangkap gerak seekor belalang besar yang melintas di rerumputan. Ia melecutkan cambuk api ke arah belalang itu. Dalam sekejab, belalang itu telah menjelma belalang panggang. Aroma daging belalang bakar menggoda selera.


    Rafa membelah belalang itu menjadi dua. Setengahnya ia berikan pada Mba Irwin. “Makanlah, rasanya tak jauh beda dengan udang bakar,” kata Rafa.


    “Makasih.” Mba Irwin menyantap belalang bakar pemberian Rafa.


     Tiba-tiba terdengar suara petir mengelegar di angkasa. Kilatan petir menandai munculnya hologram di langit Cachani Vadhi.

    Rafa dan Mba mendongak. Menyaksikan pidato Thurqk yang disiarkan secara langsung dari Devasche Vadhi.
***


     Pandangan 22 orang yang berada di Cachani Vadhi tertuju ke layar hologram di langit. Menatap lekat-lekat tampang sangar Thurqk yang sedang berpidato.


       Dengan suara menggelegar, Thurqk melancarkan terror kepada para peserta. Ia menayangkan adegan penyiksaan para peserta yang gagal di ronde pertama. Sejumlah 11 orang disiksa secara sadis di hadapan 44 peserta yang tersisa.


    Rafa memalingkan muka. Ia tak tega menyaksikan kesadisan Thurqk. Bukan ketakutan yang muncul di hati Rafa, melainkan kebencian. Tangannya mengepal dan berasap. Menahan kemarahannya atas tindakan Thurqk.


      Rafa menoleh ke arah Mba Irwin yang sedang meremas tangannya. Ia bisa merasakan kecemasan Mba. Terbaca olehnya perasaan Mba yang bergejolak menyaksikan kekejaman Thurqk.


      Layar hologram berganti menayangkan peraturan dan pembagian zona pertarungan ronde kedua. Zona pertarungan terdiri dari 7 pulau dengan 7 keanehan yang berbeda. Rafa terpilih menjadi peserta di pulau Wyrn beserta 6 peserta lain. Sedangkan Mba Irwin terpilih menjadi peserta di pulau Tvr.

Hologram Thurqk lenyap. Digantikan dengan kedatangan serombongan Hvyt menyerbu Cachani Vadhi. Hvyt mencengkeram para peserta dan bergegas membawa mereka pergi ke zona turnamen.


      Rafa dan Mba Irwin masih bergandengan tangan ketika Hvyt memisahkan. Keduanya tak berdaya melawan kekuatan Hvyt. Mereka pasrah saat Hvyt menerbangkan keduanya ke pulau yang berbeda.

*** 


Silakan baca kisah Rafa selanjutnya pada tautan berikut:
http://battle-of-realms.blogspot.com/2014/05/round-2-wyrn-rafa-grafito.html

Minggu, 03 Agustus 2014

Menjelang Pertarungan

Menjelang Pertarungan



      Suara berdebum membuat Rafa terperanjat. Ia bangkit dan mendapati sebuah pohon Rachta ditumbangkan oleh seorang perempuan bertopi hitam. Perempuan berwajah tegas dan terkesan judes.

      "Hm, perempuan perkasa," gumam Rafa.

      Rafa menghirup udara. Menguji kepekaannya mendeteksi kandungan molekul di udara. Rafa menemukan molekul yang diinginkannya, nitrogen. Ia ingin membuat sesuatu dengan nitrogen.

     Rafa tersenyum. Ia memandangi pengamen cilik dan gadis pantomim yang masih asyik mengobrol. Rafa ingin mencoba beramah- tamah dengan keduanya. Ia berlari ke utara menghampiri mereka.

    "Hai, aku Rafa. Namamu siapa, Dik?" sapa Rafa sembari mengajak bersalaman.

    Bocah berbaju hijau itu menyalami Rafa. "Saya teh Ucup. Kak Rafa teh dari mana asalna?"

    "Jakarta." Rafa membaca pikiran Ucup sejenak. Kini, ia tahu tentang kisah kehidupan Ucup yang memprihatinkan.

     Rafa beralih pada gadis pantomim. Ia bisa berjabat tangan dengan gadis bernama Colette itu, tapi kesulitan memahami pikiran gadis Perancis itu.

    "Senang bisa berkenalan dengan pantomim ramah sepertimu, Colette."

     "Sama-sama," sahut Colette riang.

     "Apa kalian haus?" tanya Rafa.

     Ucup dan Colette menggangguk.

     "Sebentar, akan kuambilkan buah segar untuk kalian," pamit Rafa sambil berjalan menghampiri pohon Rachta.

     Rafa menepis prasangka buruk yang muncul dalam benaknya. Ia mulai mengerti bahwa tak boleh gegabah di tempat itu   Paling tidak ia harus menghemat tenaga untuk antipasi segala kemungkinan yang akan terjadi.

     Hembusan angin menggoyangkan dahan pohon Rachta. Menimbulkan  suara gemerisik dedaunan yang bergesekan. Angin yang sejuk dan bersahabat.

     Rafa kembali menemui Ucup dan Colette dengan 3 buah Rachta di tangannya.  Ia membagikan buah itu pada keduanya.

     “Jangan dimakan, Ucup!” cegah Colette. Ia menatap Rafa curiga. “Bukankah tadi kamu keracunan makan buah ini?” tanya Colette.

     “Tidak, aku cuma tersedak tadi. Lihat ini,” Rafa membelah buah Rachta menjadi 2 bagian. Lalu menyentuh buah itu dengan tangan kanannya yang berpendar kebiruan. Buah berair itu membeku menyerupai es krim. Rafa mengunyah buah itu. Kali ini ia merasa buah itu manis dan segar.

      “Apa tadi itu nitrogen cair?” selidik Colette.
Rafa menggangguk. “Iya, nitrogen cair yang membekukan es krim. Kamu mau mencobanya?”

     “Mau, saya sudah lama pengen es krim tapi belum kesampaian,” celetuk Ucup. Ia menyodorkan buah Rachta yang terbelah pada Rafa.

     Rafa menyiramkan nitrogen cair pada buah Rachta Ucup. Ia melakukannya dengan hati-hati agar semprotan nitrogennya tidak membekukan tangan Ucup.

    “Hore! Ucup bisa makan es krim. Haturnuhun Kak Rafa,” kata Ucup girang sambil menjilati es krimnya.

    “Hm, boleh juga.” Colette menyodorkan buah Rachtanya pada Rafa.

     Dengan senang hati Rafa membekukan buah milik Colette. Ketiganya sedang menikmati dinginnya es krim saat suasana Jagatha Vadhi makin memanas.  Sedang terjadi perkelahian beberapa orang di sana.

     Sebuah benda jatuh dari pohon Rachta. Benda berupa buntelan itu menggelinding dan berhenti di dekat kaki Rafa. Ada secarik kertas bertuliskan “Untuk Rafa Grafito” pada  buntelan itu.

     Rafa memunggut dan membuka buntelan itu. Ia menemukan sebilah pedang, senapan laser dan sebuah agenda dalam buntelan itu. Ia segera memasukkan senapan laser dan agendanya ke kantong hoodie. Sedangkan pedang itu ia ikat dengan pilinan kain buntelan  lalu ia lingkarkan di pinggang.

     “Sebaiknya kita agak menyingkir agar tak terkena imbas perkelahian mereka,” ajak Rafa. Ia menggandeng Ucup. Mengajaknya menjauh dari kerumunan orang yang sedang berkelahi.
Colette mengikutinya. Sepertinya Colette belum sepenuhnya mempercayai Rafa.
***
* Collette terdiam ketika seseorang mengatakan hal yang tidak dimengerti Ucup. Hanya kata 'badut' yang dia tangkap dari ucapannya. Sedikit senyum pada bibir Ucup, karena dia memang menganggap collette lucu seperti badut. Tapi hal yang membuat Ucup makin senang adalah hadirnya seorang pria muda. Menyalaminya dan memberinya buah yang dirubah menjadi es krim. Rafa,orang kedua yang entah mengapa mendekati Ucup layaknya Collette.
Ucup melirik sekilas pada buntelan yang jatuh di dekat Rafa. Memperhatikan saat Rafa membereskannya. Melirik pada Collette dan melihatnya memicingkan mata, memandang curiga pada Rafa. Ucup sendiri sedikit bergidik melihat pedang yang kini terikat di pinggang Rafa.
Mereka menjauh dari kerumunan orang yang berkelahi. Berhenti di bawah pohon berwarna merah. Ucup menghabiskan es krim nya. Melirik Rafa yang memeperhatikan perkelahian beberapa makhluk di depan mereka. Berpindah melirik Collette yang tak hentinya memandangi Rafa dengan tatapan curiga. Tak tertahan, Ucup pun berkata.
"Kak Rafa, Teh Collette, itu mereka berantem kenapa ya? pasea terus ih."
Mereka diam tak menjawab. Entah karena tak tahu jawabannya atau karena suara Ucup tidak begitu jelas bagi mereka.
"Kak Rafa" Ucup menyentak tangan Rafa yang menggandengnya.
"Ya?" Rafa terlihat kaget dengan ulah Ucup.
"Itu pedang sama pestol tadi buat apa?"
Rafa diam. Colltte tersenyum senang mendengar pertanyaan Ucup yang tiba-tiba.   *
***
        Pertanyaan Ucup menohok Rafa. Ia terdiam sejenak. Menata suatu penjelasan masuk akal dan tepat untuk menjawab pertanyaan bocah itu.

      “Pedang dan senapan ini untuk jaga diri dari serangan para dedemit itu,” jawab Rafa sambil menunjuk makhluk berjubah hitam yang membawa tongka bersabit. Sosok dewa kematian ang menyeramkan.

       “Itu bebegig teh serem pisan,” Ucup begidik ketakutan, ia bersembunyi di balik badan Colette.

     “Jangan menakut-nakuti anak kecil dengan bualanmu, Rafa!” protes Colette.
Colette membujuk Ucup agar tak menghiraukan omongan Rafa. Ia menghibur Ucup dengan lelucon dan sulap untuk menghilangkan ketakutan Ucup.

     Rafa membiarkan tindakan Colette, toh ia tak tahu harus bagaimana menjelaskannya pada Ucup.
***
      Seorang gadis kecil menghampiri mereka. Ia memperkenalkan diri sebagai Luna. Gadis kecil berkekuatn bulan. Seorang pelajar SMP yang berprofesi sebagai pembasmi kejahatan di malam hari. Liar dan masih labil.

      Luna tampak tak menyukai seorang pemuda bernama Alvin yang ikut nimbrung. Rafa sempat melerai perselisihan Luna dan Alvin. Tapi ia tak kuasa mencegah aksi Luna mengerjai Alvin. Akibatnya, lengan Alvin terluka oleh senjata yang ditembakkan Luna dari jarak jauh.

      Lengan kiri Alvin terluka parah. Ledakan kecil itu membuat tulang lengan bawah-nya patah dan mencuat keluar. Merobek daging hingga menimbulkan luka mengganga yang memanjang di lengan.  Jemari tangannya remuk menyerupai ceker ayam yang terlindas mobil.

      “Tahan, ini akan menghentikan pendarahanmu, semetara aku mencari obatnya,” ucap Rafa sembari menyiram nitrogen cair ke lengan kiri Alvin. Asap putih mengepul saat nitrogen bareaksi membekukan lengan Alvin.

       Rafa melepas kain pengikat pedangnya. Ia mengibaskan kain itu hingga terbebas dari pilinan. Kain itu ia gunakan untuk membungkus lengan Alvin yang telah membeku.

     “Tunggulah sebentar,” Rafa bergegas memanjat pohon Rachta dengan pedang di tangan. Ia menebas dedaunan beserta rantingnya. Ia berharap dedaunan Rachta dapat digunakan untuk mengobati Alvin.
Rafa membaluri luka di lengan Alvin dengan remasan daun Rachta. Lalu ia membalutnya dengan robekan kain. Selanjutnya Rafa meletakkan ranting pohon sebagai penyangga lengan dan membebatnya dengan sisa kain tadi.

     “Makasih,” ucap Alvin sambil menahan nyeri.

     “Hm, lainkali jangan bertindak gegabah di sini. Moga lekas membaik,” Rafa menepuk bahu kanan Alvin.

     Tiba-tiba Alvin merasa ada hawa hangat merambati lengan kirinya. Dibarengi rasa kesemutan yang menggelitik, seolah ada ribuan semut yang menggerogoti lengannya.  Alvin merobek kain pembebat lengan. Ia tak tahan merasakan lengannya digerogoti oleh makhluk di balik perban.

     Alvin terbelalak. Ia tak menemukan semut yang menggerogoti lengannya melainkan getah Rachta yang sedang membentuk serat fibrinogen untuk menutupi luka. Getah itu bergerak cepat memulihkan daging beserta kulit yang terkoyak.  Dalam sekejab, lengan Alvin telah sembuh dan pulih seperti sediakala.
Rafa dan Colette saling bertukar pandang. Ucup tergangga menyaksikan kejadian ajaib di hadapannya.

***
*         Memang tangan Alvin bisa tumbuh sendiri dengan sel lizardnya, tapi dia takjub akan khasiat dari tumbuhan rachta ini.
"Terimakasih ya, Rafa"
"Kau bilang apa?"
"Tidak, tidak apa-apa. Aku cuma kesal dengan nona kelinci ini, berani sekali dia melukaiku"
"Sabar, dia cuma seorang anak kecil"
"Semuanya sama di hadapanku, mari bermain nona" ucap Alvin sambil menghunuskan pedang kearah luna.
Alvin berlari kearah luna, tapi dia menembakkan senjatanya kearah kaki Alvin, sehingga membuat lubang yang dalam. Tapi, Alvin berhasil melompat dan membuat sayatan dikaki kanannya luna yang mengandung racun V-125. Tubuh Luna lemas seketika.
"Tamatlah riwayatmu, nona kelinci"   *
***
      Sempat terjadi perkelahian antara Alvin, Rafa dan Collete. Beruntung, Ucup mengeluarkan kecrekan saktinya dan melerai perkelahian mereka melalui alunan merdu nyanyiannya.

     Ketika keadaan kembali tenang, Rafa bergegas menolong Luna yang terluka parah. Rafa sibuk mengobati Luna hingga tak menyadari bahwa Ucup telah pergi bersama Hvyt. Makhluk bersayap hitam itu membawa Ucup terbang membumbung tinggi. Melesat kemudian hilang dari penglihatannya.

       Puluhan Hvyt masih berdiri membentuk formasi yang membentengi tempat itu. Rafa memperhatikan makhluk itu satu per satu. Terlihat serupa satu sama lain, layaknya kembar identik. Rafa mencari salah satu diantara para Hvyt yang menurutnya Hvyt yang asli, bukan duplikat. Pilihannya jatuh pada Hvyt yang paling kanan. Hvyt yang memiliki bekas luka di pelipisnya. Kemungkinan itu Hvyt yang pernah berkelahi dengan Freon tempo hari.

        "Jaga dirimu, Luna. Aku harus pergi," pamit Rafa sambil mengusap rambut Luna.

        Rafa meraih lengan sesosok Hvyt. Ia berusaha membaca pikiran makhluk itu. Tapi ia gagal, yang terlihat olehnya hanyalah kegelapan pekat. Rafa pasrah saat Hvyt membawanya terbang. Membumbung tinggi kemudian melesat ke suatu tempat bernama Devasche Vadhi.
*** 
*Makasih untuk author Ucup & author Alvin atas kedua kutipan di dalam tulisan ini. Tulisan tersebut aku ambil dari "Lounge Jagatha Vadhi" di fanpage Battle of Realms.

Silakan membaca kelanjutan kisah Rafa pada pertarungan Round 1 pada tautan:  http://battle-of-realms.blogspot.com/2014/04/round-1k-rafa-grafito.html

Minggu, 27 Juli 2014

Perjamuan di Jagatha Vadhi


Perjamuan di Jagatha Vadhi




     Cahaya menyilaukan muncul saat Rafa membuka mata. Kemudian ia mendapati pemandangan ganjil di sekelilingnya. Daratan luas berwarna merah darah, dengan sekumpulan makhluk aneh yang berada di tempat itu. Termasuk makhluk besar bersayap hitam yang pernah menyerangnya tempo hari. Makhluk bernama Hvyt itu berjumlah banyak dan tampak serupa bagai pasukan yang menjaga tempat itu.

     "Jagadha Vadhi? Dewa Thurqk? Alam kematian? Omong kosong!" gumam Rafa sambil menyimak perkataan Hvyt. Pikiran Rafa membantah semua perkataan Hvyt. Ia merasa dirinya masih hidup. Ia menduga dirinya telah diculik anak buah Helios dan akan dijadikan kelinci percobaan dalam riset ilmiah mereka.

     Rafa memutar otak, mencari celah untuk melarikan diri dari tempat itu. Ia mengamati sekumpulan makhluk di sekelilingnya. Sebagian di antara mereka terlihat normal, berpenampilan layaknya manusia pada umumnya. Ada laki-laki dan perempuan sebaya, remaja, dan anak-anak. Sebagian lainnya tampak seperti makhluk jadi-jadian, sejenis mutan, siluman, bahkan 2 makhluk jelly kenyal warna biru juga berdiri di sana.

     Rafa menghampiri mereka. Mencari Shiren yang kemungkinan juga berada di tempat itu. Sayangnya, ia tak menemukan Shiren di antara mereka. Ia malah bertemu dengan para gadis dengan tatapan mata yang sinis.

     Rafa tak sudi berlama-lama di tempat itu. Ia harus segera pergi untuk menyelamatkan Shiren. Disaat para Hvyt meninggalkan tempat itu, Rafa memanjat pohon Ratcha yang tumbuh dengan lebat. Ia menduga tempat itu berada di atas awan atau paling tidak berada di atas ketinggian setara dengan gunung karena ia dapat melihat gumpalan awan berarak di dekat tempat itu.


     Rafa memeriksa pakaiannya. Ia memakai hoodie yang terbuat dari parasut, agak mirip dengan wingsuit miliknya. Pakaian yang bisa membantunya melayang di udara.

     Rafa telah berada di puncak pohon dan langsung melompat. Ia sempat melayang di udara sejenak. Namun sebuah sulur tiba-tiba melilit kakinya. Sulur tersebut menyeret Rafa. Lalu menghempaskannya ke daratan Jagadha Vadhi dengan keras.

    "Argh! Hidungku!" keluh Rafa yang merasakan hidungnya patah terbentur lantai pualam.

***
    "Sial!" maki Rafa sambil mengusap hidungnya yang berdarah. Ia bangkit lalu duduk bersila di tanah. Mengamati sekeliling yang mulai ramai oleh ulah para mutan.

    Seekor boneka beruang sedang berlari dikejar oleh seorang gadis penyuka permen. Seorang lelaki bangsawan sedang bercakap-cakap dengan sang pustakawan. Gadis yang dikerubuti lalat sedang berbicara dengan perempuan bertopi hitam.  Gadis tak bermulut sedang bersama si pemelihara harimau. Adapula orang yang tertidur di bawah pohon. Rafa mendengus. 

    "Tidak adakah orang normal di sini?" Ia heran melihat mereka yang tampak menikmati berada di tempat itu. Tak ada yang berniat kabur seperti dirinya.

     Rafa sempat ingin berkenalan dengan mereka. Tapi ia segera menepis keinginannya. "Ah, masa bodoh dengan mereka. Bisa jadi mereka kaki tangan Helios. Tak ada yang bisa dipercaya di tempat asing seperti ini," batin Rafa.

      Rafa beranjak mendekati pohon Rachta. Ia memperhatikan pohon merah itu dengan seksama. Pohon besar dengan buah warna merah darah. "Mana sulurnya?" Ia tak menemukan sulur yang telah membantingnya tadi.
Kali ini Rafa memanjat dengan lebih berhati-hati. Sulur-sulur bermunculan ketika Rafa hampir mencapai puncak pohon. Menjulur mendekat. Kakinya mulai terlilit. Ia berhenti memanjat dan bertengger di cabang pohon. Sulur itu berhenti bergerak.

    Rafa menghela napas. Ia mencoba mengalihkan perhatian sulur itu dengan memetik buah Rachta. Sulur itu malah melepas lilitan di kaki Rafa. Membiarkan Rafa memetik buah Rachta sepuasnya. Rafa meloncat turun dari pohon. Sulur itu tak bereaksi.

     Rafa duduk bersandar di bawah pohon dengan banyak buah Rachta di pangkuannya. Ia ragu untuk memakannya karena baru kali ini ia melihat buah semacam itu. Buah itu beraroma manis. Dan sepertinya cocok untuk menyegarkan kerongkongannya yang kering. Tapi Rafa curiga jika buah itu beracun.

    Terngiang di telinga Rafa suara Hvyt yang menjelaskan tentang buah Rachta. "....Setelah aku pergi nanti, kalian akan melihat tempat ini dipenuhi oleh tanaman yang seluruh bagian penampangnya berwarna merah, pohon Rachta. Pohon yang bisa kalian pakai untuk apapun, termasuk memuaskan rasa lapar, haus, obat-obatan, atau hal lainnya. Tempat ini juga akan selalu menjadi tempat peristirahatan kalian. Oh ya, jangan berpikir untuk bisa kabur dari tempat ini, karena seperti apa pun kemampuan yang kalian miliki, tak akan bisa kalian gunakan untuk menembus pertahanan yang ada di tempat ini."

      Kemudian disambung dengan perkataan Hvyt : "...Tenang saja, kalian akan merasa hidup sepenuhnya, namun tidak akan bisa mati untuk kedua kalinya."

    "Tak ada salahnya dicoba," gumam Rafa sambil menggigit buah Rachta. Rasanya hambar dan membuat lidahnya kebas. Kerongkongannya terasa tercekik. Disusul sesak napas, kepala pening dan halusinasi. Gejala keracunan.

    Cincin raksasa itu muncul dalam penglihatan Rafa. Pemandangan yang semula samar, kini menjadi jelas. Rangkaian kejadian itu menjadi kenangan yang melengkapi ingatannya. Kenangan masa kecilnya saat berada di planet Gliese 518g bersama Freon. Rafa kecil sedang berlatih kemampuannya mengendalikan elemen di bawah pengawasan Freon. Rafa ingat jika Freon memanggilnya dengan nama Grafit.

    Freon mengajari Rafa memunculkan api dengan menjentikkan jarinya. Rafa berhasil melakukannya setelah beberapa kali mencoba. Kemudian Freon mengajari Rafa mengendalikan elemen air dan udara. Bukan hanya mengendalikan elemen yang tersedia, melainkan mematerialisasikan partikel dan molekul bebas di udara menjadi zat cair, gas dan api. Molekul yang sering digunakan adalah uap air, oksigen, hydrogen, karbondioksida dan nitrogen. Freon menegaskan jika Rafa harus tanggap dengan kandungan zat-zat tersebut di sekitarnya. Mengenali keberadaan mereka dan mengunakannya secara tepat.

    Suara ledakan di kejauhan mengejutkan Rafa. Ledakan itu berasal dari laboraturium tempat Ayahnya bekerja. Rafa bergegas berlari menuju sumber ledakan.

    Freon mencegat langkah Rafa. Ia membopong Rafa dan membawanya menjauh dari tempat itu.
   “Lepaskan aku! Aku harus menemui Ayah!” ronta Rafa kecil dalam gendongan Freon.

    “Tenanglah, Nak. Ayahmu bisa menjaga diri. Kita harus secepatnya pergi dari planet ini sebelum kehancuran terjadi.” Freon memaksa Rafa masuk ke dalam pesawat luar angkasa dan mengekangnya dengan sabuk pengaman di kursi.

   Pesawat lepas landas meninggalkan planet Gliese 518g yang mulai mengalami keruntuhan. Dari monitor pesawat, Rafa melihat menara katai merah meledak dan hancur.

    “Kencangkan sabuk pengamanmu. Bersiaplah, kita akan melintasi portal dimensi menuju Bumi,” perintah Freon sambil menembakkan laser pencipta mini ‘black hole’ ke angkasa.

   Portal antar dimensi terbuka. Pesawat itu melesat dan terhisap ke dalam pusaran kegelapan. Kemudian muncul di sekitar atmosfer Bumi. Keberadaan portal antar dimensi sanggup memperpendek jarak tempuh dari planet Gliese 518g menuju Bumi.
***
-Kembali ke Jagatha Vadhi-

   Rafa berusaha memuntahkan buah Rachta yang tersangkut di kerongkongannya. Cuilan buah itu bagai mata pancing yang menusuk dinding kerongkongan. Setelah bersusah payah, akhirnya cuilan buah Rachta bisa ia keluarkan. Rafa menghela napas lega. Ia berusaha menenangkan diri sebelum melakukan hal lain.

    Rafa masih duduk di tanah. Ia mencoba menjentikkan jemari-nya. Dan ada percikan api muncul di tangannya. Rafa menyeringai. Ia berdiri lalu menatap pohon Rachta dengan wajah kesal. Pohon itu telah dua kali mencelakainya. Diam-diam Rafa memantik api dengan jemarinya. Ia ingin membakar pohon Rachta sebagai balasan karena telah mencelakainya.
Rafa mengurungkan niatnya membakar pohon ketika melihat seorang perempuan berambut dedaunan dan berpakaian hijau sedang duduk di batang pohon selang 3 pohon darinya. Ia melangkah menghampiri perempuan itu. Rafa menduga perempuan itu adalah penunggu pohon yang harus bertanggung jawab atas kesialan yang menimpanya.

    “Hai gadis penunggu pohon, suruh pohonmu berhenti menggangguku!” teriak Rafa dari bawah pohon.

    Gadis hijau itu menoleh. “Hai Rafa, namaku Nema. Sebaiknya kau berhenti berulah agar tak celaka.” Nema terlihat enggan menanggapi pemuda pecicilan itu.

   “Aku hanya ingin keluar dari tempat ini, tapi pohonmu selalu menghalangiku,” protes Rafa.

    “Aku memang pengendali tanaman, tapi aku bukan pemelihara pohon Rachta. Kesialan yang menimpamu akibat kecerobohanmu sendiri!” ketus Nema yang merasa terusik.

    “Hei anak muda, tidak sopan membentak perempuan!” tegur seekor harimau bertampang jinak yang menghampiri mereka.
Rafa mengernyitkan dahi. Ia agak terkejut mendapati harimau yang bisa bicara layaknya manusia. “Bukankah kamu hewan peliharaan gadis tanpa mulut itu?” selidik Rafa.

     “Kamu keliru, aku Eza, peliharaan Tuanku Kara. Dan gadis pendiam itu bernama Silia,” jawab Eza.

   Nema menoleh pada Eza dan tersenyum. Lalu melanjutkan obrolan menariknya dengan Stela. Ia tak berminat berdebat dengan Rafa. Tapi diam-diam ia menaburkan serbuk benih ke tubuh Rafa. Benih tumbuhan penyebab gatal. Serbuk itu jatuh di tudung hoodie Rafa yang terbuka. Stela terkikik menyaksikan perbuatan Nema.

   “Oh, rupanya kamu harimau penyuka para gadis.” Rafa mendongak mendengar suara cekikikan Stela. “Hei! Apa yang kalian tertawakan?” bentak Rafa pada Nema dan Stela.

     “Ada kebun rumput di tudungmu, hihihi…” sahut Stela sambil cekikikan.
Rafa meraih tudung hoodie-nya. Ia menemukan sejumput rerumputan yang tumbuh di pakaiannya. Ujung rerumputan itu tumbuh dengan pesat. Menjalari sekujur tubuhnya dan menebarkan rasa gatal.

    “Sial! Dasar benalu!” umpat Rafa sambil menggaruk dan membuang rerumputan itu. Rafa belingsatan tersiksa rasa gatal. Ia mendengus kesal. Menahan amarah yang menguasainya. Ia tak tega melampiaskan amarahnya pada kedua gadis itu.

    “Nona Nema, sebaiknya berikan obat penawar pada Rafa. Kasihan dia,” saran Eza.

   “Biarkan saja, Eza. Rerumputan itu takkan melukainya. Cuma membuatnya gatal sementara waktu,” kilah Nema.

      “Iya, biarkan saja. Dia pantas mendapatkannya,” Stela menimpali.
Rafa melangkah menjauh dari pohon Rachta. Kepalan tangannya berpendar kemerahan. Tubuhnya memanas dan mulai berasap. Ia sedang mengendalikan molekul karbon untuk menghalau rerumputan itu dengan asap.

   Rerumputan itu layu terkena asap. Rafa terbebas dari gatal-gatal yang menyiksanya. Ia menyingkirkan rerumputan yang telah layu dan melemparnya jauh-jauh.

     “Benalu menyebalkan!” maki Rafa.
Rafa duduk selonjoran di tanah. Ia ogah berdekatan dengan pepohonan lagi. Ia terdiam memandang seorang bocah berbaju hijau kumal yang sedang bercakap-cakap dengan gadis pantomim. Sepertinya sang Pantomim berhasil menghibur pengamen cilik itu. Bocah itu tampak riang bergandengan tangan dengan gadis pantomim.

    Rafa merebahkan dirinya di tanah. Menjadikan kedua tangannya sebagai bantal. Ia membandingkan nasib bocah kumal itu dengan dirinya. Bagai langit dan bumi. Rafa hidup berkecukupan sebagai anak pejabat korup sedangkan bocah itu nelangsa dan serba kekurangan.

    Di saat pengamen cilik itu berpanas-panasan mengumpulan recehan, maka Rafa tinggal menadahkan tangan pada Ayahnya. Ia cukup menanyakan pada Ayahnya, “Adakah buah apel yang perlu dicuci atau kukupaskan, Papa?”. Seketika uang hasil korupsi itu mengalir ke rekeningnya. Rafa pandai mengatur keuangan dan berinvestasi. Sejauh ini gurita bisnis keluarganya lancar dan aman dari endusan pihak berwajib.

    Ia merasa beruntung karena Freon memilihkan keluarga pejabat sebagai orangtuanya. Meskipun ia tak dapat mengingkari siksaan rasa bersalah ketika mengingat bahwa ada seorang anak yang telah dikorbankan demi dirinya. Freon membiarkan seorang anak mati tenggelam di bendungan demi memasukkan Rafa ke rumah pejabat itu.
***
   Ingatan Rafa terlempar pada kenangan sekian tahun yang lalu. Saat ia pertama menjejakkan kaki di Bumi bersama Freon. Sewaktu dirinya masih menyandang nama Grafit.

    “Anggaplah kamu menjadi peri pengganti dari bocah mati itu. Changeling. Kehadiranmu mengambil alih dan melanjutkan kehidupannya yang telah berakhir,” pesan Freon.

    “Tidak mau! Aku akan menolong bocah itu. Kasihan dia,” bantah Grafit. Ia berusaha mengendalikan pusaran air agar bocah itu terangkat dari dasar bendungan. Usahanya sia-sia, kekuatannya terlalu lemah untuk mengangkat bocah itu.

    “Percuma! Bocah itu telah mati, Grafit!” tegas Freon.

   “Kita masih bisa menolongnya!” kilah Grafit. Ia menyesal karena tak segera menolong bocah itu saat jatuh tergelincir. Ia malah menuruti perintah Freon untuk membiarkannya.

   Freon membopong Grafit. Mengajaknya menghampiri sekumpulan anak yang berkumpul di pinggir sungai. Mereka sedang bermain ‘leng pendem’, sejenis meriam bambu dengan peledak dari karbit. Freon membimbing para bocah itu membuat sebuah permainan baru yang lebih seru. Ia membuat rakit dari bilah bambu. Rakit yang cukup besar untuk mengangkut 7 anak sekaligus. Kemudian Freon memasang belasan meriam bambu sebagai roket pendorong rakit itu.

    Anak-anak antusias dengan mainan baru yang dianggap keren itu. Mereka berebut menaiki rakit. Grafit patuh ketika Freon menyuruhnya ikut naik rakit.

   Freon beraksi menyulut meriam bambu. Anak-anak bersorak kegirangan. Rakit itu meluncur di sungai. Mereka menganggap rakit itu layaknya kapal speedboat. Permainan bajak laut dimulai.

   Permainan Freon juga dimulai. Mendadak rakit itu meledak dan terbakar. Anak-anak itu jatuh ke sungai. Mereka hanyut terseret arus sungai, termasuk Grafit.
***

   Rafa meraba luka bakar di dagunya. Kenang-kenangan dari peristiwa naas itu. Akibat ledakan rakit itu, tubuh Grafit mengalami luka bakar parah pada bagian wajahnya. Sehingga keluarga bocah tenggelam itu salah mengenali Rafa sebagai anaknya. Grafit sempat mengelak dan mengakui bahwa dirinya bernama Grafit bukan Rafa yang mereka cari. (Bocah yang mati tenggelam di bendungan bernama Rafa). Namun keluarga Rafa tetap bersikukuh menganggapnya anak. Bahkan mereka membawanya keluar negri untuk menjalani operasi rekonstruksi wajah.

    Usai operasi, wajahnya kembali pulih kecuali bekas luka bakar sepanjang 5cm di dagu. Bekas luka itu tak bisa hilang hingga ia dewasa. Karena merasa berhutang budi, ia bersedia menjadi anak mereka dengan syarat penambahan nama menjadi Rafa Grafito.
Sejak kejadian itu Freon menghilang tanpa kabar. Ia melalaikan tugasnya sebagai pengasuh Grafit. Rafa merasa telah dikhianati oleh Freon juga berkhianat pada jati dirinya. Maka ia sengaja menghapus sebagian memorinya tentang planet Gliese 518 g dan Freon. Ia menjalani hidup normal sebagai manusia biasa dengan menyembunyikan segala kemampuannya. Ternyata jabat tangan Freon tempo hari telah mengaktifkan kembali memori Rafa Grafito yang sempat terhapus.
***