Menjelang Pertarungan
Suara berdebum membuat Rafa terperanjat. Ia bangkit dan
mendapati sebuah pohon Rachta ditumbangkan oleh seorang perempuan bertopi
hitam. Perempuan berwajah tegas dan terkesan judes.
"Hm, perempuan perkasa," gumam Rafa.
Rafa menghirup udara. Menguji kepekaannya mendeteksi
kandungan molekul di udara. Rafa menemukan molekul yang diinginkannya, nitrogen.
Ia ingin membuat sesuatu dengan nitrogen.
Rafa tersenyum. Ia memandangi pengamen cilik dan gadis
pantomim yang masih asyik mengobrol. Rafa ingin mencoba beramah- tamah dengan
keduanya. Ia berlari ke utara menghampiri mereka.
"Hai, aku Rafa. Namamu siapa, Dik?" sapa Rafa
sembari mengajak bersalaman.
Bocah berbaju hijau itu menyalami Rafa. "Saya teh
Ucup. Kak Rafa teh dari mana asalna?"
"Jakarta." Rafa membaca pikiran Ucup sejenak.
Kini, ia tahu tentang kisah kehidupan Ucup yang memprihatinkan.
Rafa beralih pada gadis pantomim. Ia bisa berjabat tangan
dengan gadis bernama Colette itu, tapi kesulitan memahami pikiran gadis
Perancis itu.
"Senang bisa berkenalan dengan pantomim ramah
sepertimu, Colette."
"Sama-sama," sahut Colette riang.
"Apa kalian haus?" tanya Rafa.
Ucup dan Colette menggangguk.
"Sebentar, akan kuambilkan buah segar untuk
kalian," pamit Rafa sambil berjalan menghampiri pohon Rachta.
Rafa menepis prasangka buruk yang muncul dalam benaknya. Ia
mulai mengerti bahwa tak boleh gegabah di tempat itu Paling tidak ia harus menghemat tenaga untuk
antipasi segala kemungkinan yang akan terjadi.
Hembusan angin menggoyangkan dahan pohon Rachta.
Menimbulkan suara gemerisik dedaunan
yang bergesekan. Angin yang sejuk dan bersahabat.
Rafa kembali menemui Ucup dan Colette dengan 3 buah Rachta
di tangannya. Ia membagikan buah itu
pada keduanya.
“Jangan dimakan, Ucup!” cegah Colette. Ia menatap Rafa
curiga. “Bukankah tadi kamu keracunan makan buah ini?” tanya Colette.
“Tidak, aku cuma tersedak tadi. Lihat ini,” Rafa membelah
buah Rachta menjadi 2 bagian. Lalu menyentuh buah itu dengan tangan kanannya
yang berpendar kebiruan. Buah berair itu membeku menyerupai es krim. Rafa
mengunyah buah itu. Kali ini ia merasa buah itu manis dan segar.
“Apa tadi itu nitrogen cair?” selidik Colette.
Rafa menggangguk. “Iya, nitrogen cair yang membekukan es
krim. Kamu mau mencobanya?”
“Mau, saya sudah lama pengen es krim tapi belum
kesampaian,” celetuk Ucup. Ia menyodorkan buah Rachta yang terbelah pada Rafa.
Rafa menyiramkan nitrogen cair pada buah Rachta Ucup. Ia
melakukannya dengan hati-hati agar semprotan nitrogennya tidak membekukan
tangan Ucup.
“Hore! Ucup bisa makan es krim. Haturnuhun Kak Rafa,” kata
Ucup girang sambil menjilati es krimnya.
“Hm, boleh juga.” Colette menyodorkan buah Rachtanya pada
Rafa.
Dengan senang hati Rafa membekukan buah milik Colette.
Ketiganya sedang menikmati dinginnya es krim saat suasana Jagatha Vadhi makin
memanas. Sedang terjadi perkelahian beberapa
orang di sana.
Sebuah benda jatuh dari pohon Rachta. Benda berupa buntelan
itu menggelinding dan berhenti di dekat kaki Rafa. Ada secarik kertas
bertuliskan “Untuk Rafa Grafito” pada buntelan
itu.
Rafa memunggut dan membuka buntelan itu. Ia menemukan
sebilah pedang, senapan laser dan sebuah agenda dalam buntelan itu. Ia segera
memasukkan senapan laser dan agendanya ke kantong hoodie. Sedangkan pedang itu
ia ikat dengan pilinan kain buntelan lalu ia lingkarkan di pinggang.
“Sebaiknya kita agak menyingkir agar tak terkena imbas
perkelahian mereka,” ajak Rafa. Ia menggandeng Ucup. Mengajaknya menjauh dari
kerumunan orang yang sedang berkelahi.
Colette mengikutinya. Sepertinya Colette belum sepenuhnya
mempercayai Rafa.
* Collette terdiam ketika seseorang mengatakan hal
yang tidak dimengerti Ucup. Hanya kata 'badut' yang dia tangkap dari ucapannya.
Sedikit senyum pada bibir Ucup, karena dia memang menganggap collette lucu
seperti badut. Tapi hal yang membuat Ucup makin senang adalah hadirnya seorang pria
muda. Menyalaminya dan memberinya buah yang dirubah menjadi es krim. Rafa,orang
kedua yang entah mengapa mendekati Ucup layaknya Collette.
Ucup melirik sekilas pada buntelan yang jatuh di
dekat Rafa. Memperhatikan saat Rafa membereskannya. Melirik pada Collette dan
melihatnya memicingkan mata, memandang curiga pada Rafa. Ucup sendiri sedikit
bergidik melihat pedang yang kini terikat di pinggang Rafa.
Mereka menjauh dari kerumunan orang yang berkelahi.
Berhenti di bawah pohon berwarna merah. Ucup menghabiskan es krim nya. Melirik
Rafa yang memeperhatikan perkelahian beberapa makhluk di depan mereka.
Berpindah melirik Collette yang tak hentinya memandangi Rafa dengan tatapan
curiga. Tak tertahan, Ucup pun berkata.
"Kak Rafa, Teh Collette, itu mereka berantem
kenapa ya? pasea terus ih."
Mereka diam tak menjawab. Entah karena tak tahu
jawabannya atau karena suara Ucup tidak begitu jelas bagi mereka.
"Kak Rafa" Ucup menyentak tangan Rafa
yang menggandengnya.
"Ya?" Rafa terlihat kaget dengan ulah
Ucup.
"Itu pedang sama pestol
tadi buat apa?"
Rafa diam. Colltte tersenyum senang mendengar
pertanyaan Ucup yang tiba-tiba. *
Pertanyaan Ucup menohok Rafa. Ia terdiam sejenak. Menata
suatu penjelasan masuk akal dan tepat untuk menjawab pertanyaan bocah itu.
“Pedang dan senapan ini untuk jaga diri dari serangan para
dedemit itu,” jawab Rafa sambil menunjuk makhluk berjubah hitam yang membawa
tongka bersabit. Sosok dewa kematian ang menyeramkan.
“Itu bebegig teh serem pisan,” Ucup begidik ketakutan, ia
bersembunyi di balik badan Colette.
“Jangan menakut-nakuti anak kecil dengan bualanmu, Rafa!”
protes Colette.
Colette membujuk Ucup agar tak menghiraukan omongan Rafa.
Ia menghibur Ucup dengan lelucon dan sulap untuk menghilangkan ketakutan Ucup.
Rafa membiarkan tindakan Colette, toh ia tak tahu harus
bagaimana menjelaskannya pada Ucup.
Seorang gadis kecil menghampiri mereka. Ia memperkenalkan
diri sebagai Luna. Gadis kecil berkekuatn bulan. Seorang pelajar SMP yang
berprofesi sebagai pembasmi kejahatan di malam hari. Liar dan masih labil.
Luna tampak tak menyukai seorang pemuda bernama Alvin yang
ikut nimbrung. Rafa sempat melerai perselisihan Luna dan Alvin. Tapi ia tak
kuasa mencegah aksi Luna mengerjai Alvin. Akibatnya, lengan Alvin terluka oleh
senjata yang ditembakkan Luna dari jarak jauh.
Lengan kiri Alvin terluka parah. Ledakan kecil itu membuat
tulang lengan bawah-nya patah dan mencuat keluar. Merobek daging hingga
menimbulkan luka mengganga yang memanjang di lengan. Jemari tangannya remuk menyerupai ceker ayam yang
terlindas mobil.
“Tahan, ini akan menghentikan pendarahanmu, semetara aku
mencari obatnya,” ucap Rafa sembari menyiram nitrogen cair ke lengan kiri
Alvin. Asap putih mengepul saat nitrogen bareaksi membekukan lengan Alvin.
Rafa melepas kain pengikat pedangnya. Ia mengibaskan kain
itu hingga terbebas dari pilinan. Kain itu ia gunakan untuk membungkus lengan
Alvin yang telah membeku.
“Tunggulah
sebentar,” Rafa bergegas memanjat pohon Rachta dengan pedang di tangan. Ia
menebas dedaunan beserta rantingnya. Ia berharap dedaunan Rachta dapat
digunakan untuk mengobati Alvin.
Rafa membaluri luka di lengan Alvin dengan remasan daun
Rachta. Lalu ia membalutnya dengan robekan kain. Selanjutnya Rafa meletakkan
ranting pohon sebagai penyangga lengan dan membebatnya dengan sisa kain tadi.
“Makasih,” ucap Alvin sambil menahan nyeri.
“Hm, lainkali jangan bertindak gegabah di sini. Moga lekas
membaik,” Rafa menepuk bahu kanan Alvin.
Tiba-tiba Alvin merasa ada hawa hangat merambati lengan
kirinya. Dibarengi rasa kesemutan yang menggelitik, seolah ada ribuan semut
yang menggerogoti lengannya. Alvin
merobek kain pembebat lengan. Ia tak tahan merasakan lengannya digerogoti oleh
makhluk di balik perban.
Alvin terbelalak. Ia tak menemukan semut yang menggerogoti
lengannya melainkan getah Rachta yang sedang membentuk serat fibrinogen untuk
menutupi luka. Getah itu bergerak cepat memulihkan daging beserta kulit yang
terkoyak. Dalam sekejab, lengan Alvin
telah sembuh dan pulih seperti sediakala.
Rafa dan Colette saling bertukar pandang. Ucup tergangga
menyaksikan kejadian ajaib di hadapannya.
* Memang tangan Alvin bisa
tumbuh sendiri dengan sel lizardnya, tapi dia takjub akan khasiat dari tumbuhan
rachta ini.
"Tidak, tidak apa-apa. Aku cuma kesal dengan
nona kelinci ini, berani sekali dia melukaiku"
"Sabar, dia cuma seorang anak kecil"
"Semuanya sama di hadapanku, mari bermain
nona" ucap Alvin sambil menghunuskan pedang kearah luna.
Alvin berlari kearah luna, tapi dia menembakkan
senjatanya kearah kaki Alvin, sehingga membuat lubang yang dalam. Tapi, Alvin
berhasil melompat dan membuat sayatan dikaki kanannya luna yang mengandung
racun V-125. Tubuh Luna lemas seketika.
"Tamatlah riwayatmu, nona kelinci" *
***
Sempat terjadi perkelahian antara Alvin, Rafa dan Collete. Beruntung, Ucup
mengeluarkan kecrekan saktinya dan melerai perkelahian mereka melalui alunan
merdu nyanyiannya.
Ketika keadaan kembali tenang, Rafa bergegas menolong Luna yang terluka parah.
Rafa sibuk mengobati Luna hingga tak menyadari bahwa Ucup telah pergi bersama
Hvyt. Makhluk bersayap hitam itu membawa Ucup terbang membumbung tinggi.
Melesat kemudian hilang dari penglihatannya.
Puluhan Hvyt masih berdiri membentuk formasi yang membentengi tempat itu.
Rafa memperhatikan makhluk itu satu per satu. Terlihat serupa satu sama lain,
layaknya kembar identik. Rafa mencari salah satu diantara para Hvyt yang
menurutnya Hvyt yang asli, bukan duplikat. Pilihannya jatuh pada Hvyt yang
paling kanan. Hvyt yang memiliki bekas luka di pelipisnya. Kemungkinan itu Hvyt
yang pernah berkelahi dengan Freon tempo hari.
"Jaga dirimu, Luna. Aku harus pergi," pamit Rafa sambil mengusap
rambut Luna.
Rafa meraih lengan sesosok Hvyt. Ia berusaha membaca pikiran makhluk itu.
Tapi ia gagal, yang terlihat olehnya hanyalah kegelapan pekat. Rafa pasrah saat
Hvyt membawanya terbang. Membumbung tinggi kemudian melesat ke suatu tempat
bernama Devasche Vadhi.
***
*Makasih untuk author Ucup & author Alvin atas kedua kutipan di dalam tulisan ini. Tulisan tersebut aku ambil dari "Lounge Jagatha Vadhi" di fanpage Battle of Realms.