Minggu, 17 Agustus 2014

Persinggahan Terakhir di Cachani Vadhi


     “Petani, bedebah kalian! Keluarga dan teman-temanku kalian bantai dengan kejam!” umpat seekor ulat yang berjalan sempoyongan. Ulat itu klenger terkena semprotan cairan pembasmi hama.

     Sepenggal adegan dalam iklan pembasmi hama tersebut melintas di benak Rafa saat ia tiba di Cachani Vadhi. Dan kejadian berikutnya berkebalikan dengan adegan iklan. Beberapa ulat raksasa menyembul dari akar rerumputan warna merah setinggi 2 meter.

     Ulat-ulat itu berukuran setengah meter. Mereka mengunyah rumput dengan lahap. Sesekali mata besarnya menoleh ke arah Rafa.


     Rafa melangkah mundur ketika seekor ulat menghampirinya. Rafa merogoh senapan laser di sakunya. Bersiap menembak.


     “Jangan!” cegah Mba Irwin yang telah berdiri di hadapan Rafa. Kedua tangannya terentang menghalangi Rafa menembak ulat itu.

    Ulat itu beringsut menjauh dari Rafa dan Mba Irwin. Lalu menghilang di balik rimbun rerumputan.


    “Syukurlah, kamu selamat, Mba Irwin,” kata Rafa sambil memegang kedua bahu Mba.


    “Seharusnya aku bisa bertemu Antakaba jika makhluk bersayap itu tidak muncul menyelamatkanku.” Mba Irwin menepis tangan Rafa dari bahunya.


    Rafa tersenyum mendengar bunyi perut Mba Irwin. Ia juga merasa lapar usai bertarung di ronde pertama.

Rafa mengajak Mba Irwin mencari makanan. Tak ada pohon Rachta di tempat itu. Yang ada hanyalah rerumputan sejenis ilalang bernama Gavata.


    Rafa mencabut sebatang Gavata. Berharap menemukan umbi pada akarnya. Nihil. Akarnya hanya akar serabut bukan umbi. Pangkal tumbuhan itu menggembung mirip serai.


     Mba Irwin mengamati batang Gavata yang dipegang Rafa. Sebagai Peacemaker merangkap aktivis lingkungan, Mba nyaris hafal berbagai jenis tumbuhan dan binatang di hutan. Mba mengenali rumput Gavata sebagai tumbuhan yang masih sekerabat dengan tebu. Artinya pangkal Gavata mengandung cairan yang dapat diperas airnya.


     Mba Irwin mencabut sebatang Gavata, lalu memeras pangkalnya. Ia menyesap cairan kental yang keluar dari pangkal Gavata.


     “Cobalah, rasanya semanis jeruk,” kata Mba Irwin.


Agak ragu, Rafa mencicipi air perasan pangkal batang Gavata. Rasanya memang mirip air jeruk, tapi lebih kental dan lengket. Cairan itu lebih mirip getah.


    Ekor mata Rafa menangkap gerak seekor belalang besar yang melintas di rerumputan. Ia melecutkan cambuk api ke arah belalang itu. Dalam sekejab, belalang itu telah menjelma belalang panggang. Aroma daging belalang bakar menggoda selera.


    Rafa membelah belalang itu menjadi dua. Setengahnya ia berikan pada Mba Irwin. “Makanlah, rasanya tak jauh beda dengan udang bakar,” kata Rafa.


    “Makasih.” Mba Irwin menyantap belalang bakar pemberian Rafa.


     Tiba-tiba terdengar suara petir mengelegar di angkasa. Kilatan petir menandai munculnya hologram di langit Cachani Vadhi.

    Rafa dan Mba mendongak. Menyaksikan pidato Thurqk yang disiarkan secara langsung dari Devasche Vadhi.
***


     Pandangan 22 orang yang berada di Cachani Vadhi tertuju ke layar hologram di langit. Menatap lekat-lekat tampang sangar Thurqk yang sedang berpidato.


       Dengan suara menggelegar, Thurqk melancarkan terror kepada para peserta. Ia menayangkan adegan penyiksaan para peserta yang gagal di ronde pertama. Sejumlah 11 orang disiksa secara sadis di hadapan 44 peserta yang tersisa.


    Rafa memalingkan muka. Ia tak tega menyaksikan kesadisan Thurqk. Bukan ketakutan yang muncul di hati Rafa, melainkan kebencian. Tangannya mengepal dan berasap. Menahan kemarahannya atas tindakan Thurqk.


      Rafa menoleh ke arah Mba Irwin yang sedang meremas tangannya. Ia bisa merasakan kecemasan Mba. Terbaca olehnya perasaan Mba yang bergejolak menyaksikan kekejaman Thurqk.


      Layar hologram berganti menayangkan peraturan dan pembagian zona pertarungan ronde kedua. Zona pertarungan terdiri dari 7 pulau dengan 7 keanehan yang berbeda. Rafa terpilih menjadi peserta di pulau Wyrn beserta 6 peserta lain. Sedangkan Mba Irwin terpilih menjadi peserta di pulau Tvr.

Hologram Thurqk lenyap. Digantikan dengan kedatangan serombongan Hvyt menyerbu Cachani Vadhi. Hvyt mencengkeram para peserta dan bergegas membawa mereka pergi ke zona turnamen.


      Rafa dan Mba Irwin masih bergandengan tangan ketika Hvyt memisahkan. Keduanya tak berdaya melawan kekuatan Hvyt. Mereka pasrah saat Hvyt menerbangkan keduanya ke pulau yang berbeda.

*** 


Silakan baca kisah Rafa selanjutnya pada tautan berikut:
http://battle-of-realms.blogspot.com/2014/05/round-2-wyrn-rafa-grafito.html

Minggu, 03 Agustus 2014

Menjelang Pertarungan

Menjelang Pertarungan



      Suara berdebum membuat Rafa terperanjat. Ia bangkit dan mendapati sebuah pohon Rachta ditumbangkan oleh seorang perempuan bertopi hitam. Perempuan berwajah tegas dan terkesan judes.

      "Hm, perempuan perkasa," gumam Rafa.

      Rafa menghirup udara. Menguji kepekaannya mendeteksi kandungan molekul di udara. Rafa menemukan molekul yang diinginkannya, nitrogen. Ia ingin membuat sesuatu dengan nitrogen.

     Rafa tersenyum. Ia memandangi pengamen cilik dan gadis pantomim yang masih asyik mengobrol. Rafa ingin mencoba beramah- tamah dengan keduanya. Ia berlari ke utara menghampiri mereka.

    "Hai, aku Rafa. Namamu siapa, Dik?" sapa Rafa sembari mengajak bersalaman.

    Bocah berbaju hijau itu menyalami Rafa. "Saya teh Ucup. Kak Rafa teh dari mana asalna?"

    "Jakarta." Rafa membaca pikiran Ucup sejenak. Kini, ia tahu tentang kisah kehidupan Ucup yang memprihatinkan.

     Rafa beralih pada gadis pantomim. Ia bisa berjabat tangan dengan gadis bernama Colette itu, tapi kesulitan memahami pikiran gadis Perancis itu.

    "Senang bisa berkenalan dengan pantomim ramah sepertimu, Colette."

     "Sama-sama," sahut Colette riang.

     "Apa kalian haus?" tanya Rafa.

     Ucup dan Colette menggangguk.

     "Sebentar, akan kuambilkan buah segar untuk kalian," pamit Rafa sambil berjalan menghampiri pohon Rachta.

     Rafa menepis prasangka buruk yang muncul dalam benaknya. Ia mulai mengerti bahwa tak boleh gegabah di tempat itu   Paling tidak ia harus menghemat tenaga untuk antipasi segala kemungkinan yang akan terjadi.

     Hembusan angin menggoyangkan dahan pohon Rachta. Menimbulkan  suara gemerisik dedaunan yang bergesekan. Angin yang sejuk dan bersahabat.

     Rafa kembali menemui Ucup dan Colette dengan 3 buah Rachta di tangannya.  Ia membagikan buah itu pada keduanya.

     “Jangan dimakan, Ucup!” cegah Colette. Ia menatap Rafa curiga. “Bukankah tadi kamu keracunan makan buah ini?” tanya Colette.

     “Tidak, aku cuma tersedak tadi. Lihat ini,” Rafa membelah buah Rachta menjadi 2 bagian. Lalu menyentuh buah itu dengan tangan kanannya yang berpendar kebiruan. Buah berair itu membeku menyerupai es krim. Rafa mengunyah buah itu. Kali ini ia merasa buah itu manis dan segar.

      “Apa tadi itu nitrogen cair?” selidik Colette.
Rafa menggangguk. “Iya, nitrogen cair yang membekukan es krim. Kamu mau mencobanya?”

     “Mau, saya sudah lama pengen es krim tapi belum kesampaian,” celetuk Ucup. Ia menyodorkan buah Rachta yang terbelah pada Rafa.

     Rafa menyiramkan nitrogen cair pada buah Rachta Ucup. Ia melakukannya dengan hati-hati agar semprotan nitrogennya tidak membekukan tangan Ucup.

    “Hore! Ucup bisa makan es krim. Haturnuhun Kak Rafa,” kata Ucup girang sambil menjilati es krimnya.

    “Hm, boleh juga.” Colette menyodorkan buah Rachtanya pada Rafa.

     Dengan senang hati Rafa membekukan buah milik Colette. Ketiganya sedang menikmati dinginnya es krim saat suasana Jagatha Vadhi makin memanas.  Sedang terjadi perkelahian beberapa orang di sana.

     Sebuah benda jatuh dari pohon Rachta. Benda berupa buntelan itu menggelinding dan berhenti di dekat kaki Rafa. Ada secarik kertas bertuliskan “Untuk Rafa Grafito” pada  buntelan itu.

     Rafa memunggut dan membuka buntelan itu. Ia menemukan sebilah pedang, senapan laser dan sebuah agenda dalam buntelan itu. Ia segera memasukkan senapan laser dan agendanya ke kantong hoodie. Sedangkan pedang itu ia ikat dengan pilinan kain buntelan  lalu ia lingkarkan di pinggang.

     “Sebaiknya kita agak menyingkir agar tak terkena imbas perkelahian mereka,” ajak Rafa. Ia menggandeng Ucup. Mengajaknya menjauh dari kerumunan orang yang sedang berkelahi.
Colette mengikutinya. Sepertinya Colette belum sepenuhnya mempercayai Rafa.
***
* Collette terdiam ketika seseorang mengatakan hal yang tidak dimengerti Ucup. Hanya kata 'badut' yang dia tangkap dari ucapannya. Sedikit senyum pada bibir Ucup, karena dia memang menganggap collette lucu seperti badut. Tapi hal yang membuat Ucup makin senang adalah hadirnya seorang pria muda. Menyalaminya dan memberinya buah yang dirubah menjadi es krim. Rafa,orang kedua yang entah mengapa mendekati Ucup layaknya Collette.
Ucup melirik sekilas pada buntelan yang jatuh di dekat Rafa. Memperhatikan saat Rafa membereskannya. Melirik pada Collette dan melihatnya memicingkan mata, memandang curiga pada Rafa. Ucup sendiri sedikit bergidik melihat pedang yang kini terikat di pinggang Rafa.
Mereka menjauh dari kerumunan orang yang berkelahi. Berhenti di bawah pohon berwarna merah. Ucup menghabiskan es krim nya. Melirik Rafa yang memeperhatikan perkelahian beberapa makhluk di depan mereka. Berpindah melirik Collette yang tak hentinya memandangi Rafa dengan tatapan curiga. Tak tertahan, Ucup pun berkata.
"Kak Rafa, Teh Collette, itu mereka berantem kenapa ya? pasea terus ih."
Mereka diam tak menjawab. Entah karena tak tahu jawabannya atau karena suara Ucup tidak begitu jelas bagi mereka.
"Kak Rafa" Ucup menyentak tangan Rafa yang menggandengnya.
"Ya?" Rafa terlihat kaget dengan ulah Ucup.
"Itu pedang sama pestol tadi buat apa?"
Rafa diam. Colltte tersenyum senang mendengar pertanyaan Ucup yang tiba-tiba.   *
***
        Pertanyaan Ucup menohok Rafa. Ia terdiam sejenak. Menata suatu penjelasan masuk akal dan tepat untuk menjawab pertanyaan bocah itu.

      “Pedang dan senapan ini untuk jaga diri dari serangan para dedemit itu,” jawab Rafa sambil menunjuk makhluk berjubah hitam yang membawa tongka bersabit. Sosok dewa kematian ang menyeramkan.

       “Itu bebegig teh serem pisan,” Ucup begidik ketakutan, ia bersembunyi di balik badan Colette.

     “Jangan menakut-nakuti anak kecil dengan bualanmu, Rafa!” protes Colette.
Colette membujuk Ucup agar tak menghiraukan omongan Rafa. Ia menghibur Ucup dengan lelucon dan sulap untuk menghilangkan ketakutan Ucup.

     Rafa membiarkan tindakan Colette, toh ia tak tahu harus bagaimana menjelaskannya pada Ucup.
***
      Seorang gadis kecil menghampiri mereka. Ia memperkenalkan diri sebagai Luna. Gadis kecil berkekuatn bulan. Seorang pelajar SMP yang berprofesi sebagai pembasmi kejahatan di malam hari. Liar dan masih labil.

      Luna tampak tak menyukai seorang pemuda bernama Alvin yang ikut nimbrung. Rafa sempat melerai perselisihan Luna dan Alvin. Tapi ia tak kuasa mencegah aksi Luna mengerjai Alvin. Akibatnya, lengan Alvin terluka oleh senjata yang ditembakkan Luna dari jarak jauh.

      Lengan kiri Alvin terluka parah. Ledakan kecil itu membuat tulang lengan bawah-nya patah dan mencuat keluar. Merobek daging hingga menimbulkan luka mengganga yang memanjang di lengan.  Jemari tangannya remuk menyerupai ceker ayam yang terlindas mobil.

      “Tahan, ini akan menghentikan pendarahanmu, semetara aku mencari obatnya,” ucap Rafa sembari menyiram nitrogen cair ke lengan kiri Alvin. Asap putih mengepul saat nitrogen bareaksi membekukan lengan Alvin.

       Rafa melepas kain pengikat pedangnya. Ia mengibaskan kain itu hingga terbebas dari pilinan. Kain itu ia gunakan untuk membungkus lengan Alvin yang telah membeku.

     “Tunggulah sebentar,” Rafa bergegas memanjat pohon Rachta dengan pedang di tangan. Ia menebas dedaunan beserta rantingnya. Ia berharap dedaunan Rachta dapat digunakan untuk mengobati Alvin.
Rafa membaluri luka di lengan Alvin dengan remasan daun Rachta. Lalu ia membalutnya dengan robekan kain. Selanjutnya Rafa meletakkan ranting pohon sebagai penyangga lengan dan membebatnya dengan sisa kain tadi.

     “Makasih,” ucap Alvin sambil menahan nyeri.

     “Hm, lainkali jangan bertindak gegabah di sini. Moga lekas membaik,” Rafa menepuk bahu kanan Alvin.

     Tiba-tiba Alvin merasa ada hawa hangat merambati lengan kirinya. Dibarengi rasa kesemutan yang menggelitik, seolah ada ribuan semut yang menggerogoti lengannya.  Alvin merobek kain pembebat lengan. Ia tak tahan merasakan lengannya digerogoti oleh makhluk di balik perban.

     Alvin terbelalak. Ia tak menemukan semut yang menggerogoti lengannya melainkan getah Rachta yang sedang membentuk serat fibrinogen untuk menutupi luka. Getah itu bergerak cepat memulihkan daging beserta kulit yang terkoyak.  Dalam sekejab, lengan Alvin telah sembuh dan pulih seperti sediakala.
Rafa dan Colette saling bertukar pandang. Ucup tergangga menyaksikan kejadian ajaib di hadapannya.

***
*         Memang tangan Alvin bisa tumbuh sendiri dengan sel lizardnya, tapi dia takjub akan khasiat dari tumbuhan rachta ini.
"Terimakasih ya, Rafa"
"Kau bilang apa?"
"Tidak, tidak apa-apa. Aku cuma kesal dengan nona kelinci ini, berani sekali dia melukaiku"
"Sabar, dia cuma seorang anak kecil"
"Semuanya sama di hadapanku, mari bermain nona" ucap Alvin sambil menghunuskan pedang kearah luna.
Alvin berlari kearah luna, tapi dia menembakkan senjatanya kearah kaki Alvin, sehingga membuat lubang yang dalam. Tapi, Alvin berhasil melompat dan membuat sayatan dikaki kanannya luna yang mengandung racun V-125. Tubuh Luna lemas seketika.
"Tamatlah riwayatmu, nona kelinci"   *
***
      Sempat terjadi perkelahian antara Alvin, Rafa dan Collete. Beruntung, Ucup mengeluarkan kecrekan saktinya dan melerai perkelahian mereka melalui alunan merdu nyanyiannya.

     Ketika keadaan kembali tenang, Rafa bergegas menolong Luna yang terluka parah. Rafa sibuk mengobati Luna hingga tak menyadari bahwa Ucup telah pergi bersama Hvyt. Makhluk bersayap hitam itu membawa Ucup terbang membumbung tinggi. Melesat kemudian hilang dari penglihatannya.

       Puluhan Hvyt masih berdiri membentuk formasi yang membentengi tempat itu. Rafa memperhatikan makhluk itu satu per satu. Terlihat serupa satu sama lain, layaknya kembar identik. Rafa mencari salah satu diantara para Hvyt yang menurutnya Hvyt yang asli, bukan duplikat. Pilihannya jatuh pada Hvyt yang paling kanan. Hvyt yang memiliki bekas luka di pelipisnya. Kemungkinan itu Hvyt yang pernah berkelahi dengan Freon tempo hari.

        "Jaga dirimu, Luna. Aku harus pergi," pamit Rafa sambil mengusap rambut Luna.

        Rafa meraih lengan sesosok Hvyt. Ia berusaha membaca pikiran makhluk itu. Tapi ia gagal, yang terlihat olehnya hanyalah kegelapan pekat. Rafa pasrah saat Hvyt membawanya terbang. Membumbung tinggi kemudian melesat ke suatu tempat bernama Devasche Vadhi.
*** 
*Makasih untuk author Ucup & author Alvin atas kedua kutipan di dalam tulisan ini. Tulisan tersebut aku ambil dari "Lounge Jagatha Vadhi" di fanpage Battle of Realms.

Silakan membaca kelanjutan kisah Rafa pada pertarungan Round 1 pada tautan:  http://battle-of-realms.blogspot.com/2014/04/round-1k-rafa-grafito.html