Marowati
Kamis, 01 Oktober 2015
Berkenalan Dengan Baidu
Selasa, 12 Mei 2015
draft tasya, uji kerapian postingan kedua
"Apa cuma segini kemampuanmu? Kita butuh lebih," seloroh Radith.
"Iya, perisai virtual saja takkan cukup untuk menghalau serangan para monster," cibir Nely.
"Entahlah, aku ini cuma kuter alias kuis hunter. Aku ke sini buat berburu hadiah dan gratisan bukan bertarung," sahut Tasya cuek.
"Kenapa tidak kalian tanyakan saja sama para Maid, bukankah mereka tahu apapun?" celetuk Eophi yang masih asyik tiduran di kasur. Suaranya lebih mirip orang mengigau.
"Ada yang bisa kami bantu, Nona?" tanya Maid.
"Aku ingin tahu apa aku punya kekuatan lainnya?" sahut Tasya.
"Sebentar," Maid mengetukkan ujung sepatunya ke lantai. Seketika lantai Alkima berubah menjadi monitor yang menampilkan data diri Tasya.
"Di sini tertulis jika Nona Tasya memiliki senjata smartphone multifungsi. Fiturnya terdiri dari perisai virtual, aura hoki, proyeksi ruang virtual, dan siaran online pengganggu. Serta powerbank pemasok daya tanpa batas," jelas Maid.
"Apa? Siaran online pengganggu? Haduh, perusahaan aplikasi akan memecatku jika tahu ini," keluh Tasya.
"Huft, benar-benar payah," ejek Eophi.
"Hei, apa maksudmu! Kamu sendiri cuma bisa tidur doang. Sini tunjukkan kemampuanmu!" balas Tasya sewot.
Eophi menyibakkan selimutnya. Ia bangkit bersama seperangkat alat tidur yang melayang di sampingnya. Ia merapal mantra dengan lirih.
Guling Eophi bersinar dan mengeras. Eophi mengayunkan gulingnya kepada Tasya dengan sekuat tenaga.
"Plak!" guling menghantam wajah Tasya dan membuatnya jatuh tersungkur.
Tasya malah bengong. Hantaman guling Eophi terasa empuk di pipinya. Seperti ditepuk boneka bulu nan lembut. Bahkan perisai virtualnya tidak muncul karena menganggap serangan Eophi tidak berpotensi membahayakan Tasya.
"Apa itu menyakitkan?" tanya Radith heran melihat ekspresi Tasya.
Tasya menggeleng. Dan giliran Radith dan Nely yang melonggo.
"Astaga! Bahkan seranganmu tak mampu membunuh seekor lalat sekalipun, Eophi." Radith mengacak-acak rambutnya sendiri. Ia nyaris frustasi menghadapi rekan satu tim yang tidak bisa diandalkan.
"Eophi Rasaya memang pecinta damai. Dia punya prinsip Not Kill In Action sehingga serangannya takkan mencederai lawan," jelas Maid yang mendampingi Eophi.
***
Draf Tasya (uji kerapian tulisan by mail)
Doorprize Mengerikan dari Alforea
-Perkenalan-
Nama lengkapnya Tasya Freyona Putri, gadis 16 tahun yang akrab dipanggil Tasya. Siswi kelas X SMA yang sedang menikmati liburan ke luar angkasa. Sebuah hadiah "tercetar" dari hasil berburu kuis di internet.
Awalnya acara liburan ke planet Alforea berjalan lancar hingga ia mengetahui bahwa kegiatan kuis dalam game online Battle of Realms-Exiled V masih berlanjut. Tasya harus mengikuti sejumlah turnamen di Alforea untuk memenangkan doorprize-nya.
Bukan perkara mudah untuk memenangkan doorprize. Ia harus menghadapi persaingan ketat di antara ratusan peserta. Bukan persaingan dunia maya yang dihadapinya, bukan sekadar perang like maupun status facebook. Melainkan persaingan dalam arti nyata termasuk adu fisik dan perang bertaruh nyawa. Siap ataupun tidak, Tasya akan terlibat dalam pertarungan sengit di Battle of Realms-Exiled V.
***
-Patner Berlatih-
Tasya mengibaskan tangannya yang pegal usai memukuli samsak. Wajahnya cemberut karena kelelahan usai berlatih beladiri bersama Radith. Sebelumnya Tasya memang pernah ikut karate, tapi ia hanya bertahan mengikuti latihan karate selama seminggu. Tasya meninggalkan eskul karate dan melipir ke warnet untuk berburu kuis berhadiah.
"Huft! Kenapa harus ada turnamen segala sih? Masa iya kuter cantik gini disuruh berantem. Kenapa nggak diadakan lomba foto aja sih buat dapetin doorprize-nya?" gerutu Tasya. Ia duduk selonjoran dengan sesekali meregangkan tangannya. Ia mengambil jepit rambut dan menjepit rambut hitam sebahunya ke belakang. Kemudian mengusap keringat di lehernya dengan handuk kecil. Siang hari di Alkima Plaza terasa lebih panas daripada hawa di tempat tinggalnya dulu.
"Tasya! Latihannya yang serius woy!" teriak Radith. Pemuda 23 tahun itu sedang duduk bersila di lantai sambil memainkan wayang golek dengan prana petirnya. Tiga wayang golek tanpa gagang tampak melayang di udara.
"Males, ah. Capek tau!" kilah Tasya. Ia merogoh smartphone di sakunya dan mulai memainkan sebuah game.
Radith bangkit. Ia mengubah wayang Bima menjadi topeng merah yang menutupi separuh wajah tampannya. Sedangkan wayang Arjuna berubah menjadi gelang Gandiwa yang melingkari lengan kekarnya. Dan wayang Gatotkaca menjelma menjadi Zirah Antakusuma yang serupa rompi membuat penampilannya makin gagah. Penampilan Radith yang semula tampan dan kalem telah menjelma menjadi sosok yang gagah perkasa dan terkesan garang. Radith telah malihrupa menjadi sosok Vajra, sang Dalang Petarung.
Vajra beranjak menghampiri Tasya. Ia menyerang Tasya dengan Tinju Brajamusti, tapi serangannya terhalang oleh perisai yang menyelubungi Tasya. Kilatan petir menyambar-nyambar di sekeliling keduanya.
"Kau pikir seberapa kuat perisaimu menahan seranganku?" hardik Vajra.
"Apa salahku? Kenapa kamu menyerangku?" sahut Tasya. Wajahnya memucat. Ia takut jika perisai pelindungnya ditembus oleh serangan Vajra. Ia bergegas menancapkan kabel powerbank ke ponselnya, berjaga-jaga agar ponselnya tidak lowbat.
"Dor!" sebuah proyektil peluru melesat ke arah Tasya. Tapi kemudian terpental saat menyentuh tabir pelindung dan berbelok hingga hampir mengenai Vajra.
Beruntung, Vajra sigap menghindari terjangan peluru yang dimuntahkan dari senapan Nely itu. Lantai keramik Alkima remuk terkena ledakan peluru Nely.
"Hei, Nely! Apa urusanmu dengan Eophi udah rampung? Kenapa kau menyerangku?" protes Vajra sambil menatap tajam kepada Nely.
"Aku cuma ingin mengetes kemampuan kalian. Persetan dengan bocah pemalas itu!" sahut Nely.
"Ya Dewata, kenapa aku sesial ini. Andai aku dapat memilih tim yang lebih baik daripada kedua bocah itu," keluh Vajra yang mulai memulihkan diri menjadi Radith.
"Yap, aku sepakat denganmu," kata Nely sembari menyibakan rambut birunya yang berkilauan. Gadis bermata hijau itu masih menodongkan senapannya ke arah Tasya. Ia memicingkan mata dan bersiap menembak Tasya lagi. Ia yakin kemampuan "Eyes Afinity"-nya selalu membuatnya tepat sasaran. Daripada tak berguna dan membebani lebih baik dilenyapkan saja, itulah prinsip Nely.
"Dor!...Dor...Dor...!" tiga tembakan beruntun mengarah pada Tasya.
Tasya terbelalak. Ia menjerit dan menutupi kepalanya dengan lengan. Tindakan yang sebenarnya sia-sia jika perisai pelindungnya tidak aktif. Beruntung, tabir perisai pelindung itu secara otomatis muncul dan melindungi Tasya dari segala serangan lawan. Sehinggu peluru yang ditembakkan Nely terpental saat menyentuh perisai pelindung Tasya. Peluru itu menumbuk lantai dan menimbulkan ledakan elektromagnetik dahsyat yang menghancurkan lantai Alkima Plaza.
"Kalian ini berisik sekali. Menganggu tidurku saja," keluh seorang pemuda berkulit pucat bernama Eophi. Perawakannya jangkung dengan wajah babyface yang menggemaskan. Semenggemaskan bantal, guling, dan kasur yang selalu dibawanya ke mana-mana. Seekor naga mungil berwarna merah menyembul dari kasur Eophi, namanya Hel. Hewan peliharaan Eophi nan setia.
"Iya, nih. Mereka berdua nggak suka lihat orang lain nyantai," Tasya menimpali.
"Bisakah kalian serius sedikit saja untuk turnamen ini. Kita ini satu tim, butuh kekompakan untuk menyelesaikan turnamen ini. Paham?" kata Radith.
Eophi menggeleng. "Entahlah, aku mengantuk," jawabnya sambil kembali bergelung di atas kasur dan memeluk guling.
Nely melirik Eophi. Jemarinya bersiap menarik pelatuk senapan. Tapi ia urung melakukannya karena dicegah Radith.
"Kumohon, jangan menyerangku lagi ya. Aku janji mau berlatih beladiri dengan sungguh-sungguh bersama kalian," pinta Tasya. Ia bangkit dan menghampiri Radith dan Nely.
Nely menepuk jidat. "Syukurlah, setidaknya kamu sedikit berusaha daripada tidur doang," Seulas senyum tampak di bibir Nely.
"Nah, gitu dong. Semangat demi kemenangan tim kita," celetuk Radith.
"Tapi sebelum berlatih kanuragan kita selfie dulu, yuk!" Tasya mengeluarkan tongsis dan ber-selfie ria bersama Radith, Nely, dan Eophi yang terlelap di kasurnya.
Keempat Maid pendamping mundur, mereka memberikan ruang kepada para peserta untuk mengekspresikan diri.
***
Minggu, 17 Agustus 2014
Persinggahan Terakhir di Cachani Vadhi
“Petani, bedebah kalian! Keluarga dan teman-temanku kalian bantai dengan kejam!” umpat seekor ulat yang berjalan sempoyongan. Ulat itu klenger terkena semprotan cairan pembasmi hama.
Sepenggal adegan dalam iklan pembasmi hama tersebut melintas di benak Rafa saat ia tiba di Cachani Vadhi. Dan kejadian berikutnya berkebalikan dengan adegan iklan. Beberapa ulat raksasa menyembul dari akar rerumputan warna merah setinggi 2 meter.
Ulat-ulat itu berukuran setengah meter. Mereka mengunyah rumput dengan lahap. Sesekali mata besarnya menoleh ke arah Rafa.
Rafa melangkah mundur ketika seekor ulat menghampirinya. Rafa merogoh senapan laser di sakunya. Bersiap menembak.
“Jangan!” cegah Mba Irwin yang telah berdiri di hadapan Rafa. Kedua tangannya terentang menghalangi Rafa menembak ulat itu.
Ulat itu beringsut menjauh dari Rafa dan Mba Irwin. Lalu menghilang di balik rimbun rerumputan.
“Syukurlah, kamu selamat, Mba Irwin,” kata Rafa sambil memegang kedua bahu Mba.
“Seharusnya aku bisa bertemu Antakaba jika makhluk bersayap itu tidak muncul menyelamatkanku.” Mba Irwin menepis tangan Rafa dari bahunya.
Rafa tersenyum mendengar bunyi perut Mba Irwin. Ia juga merasa lapar usai bertarung di ronde pertama.
Rafa mengajak Mba Irwin mencari makanan. Tak ada pohon Rachta di tempat itu. Yang ada hanyalah rerumputan sejenis ilalang bernama Gavata.
Rafa mencabut sebatang Gavata. Berharap menemukan umbi pada akarnya. Nihil. Akarnya hanya akar serabut bukan umbi. Pangkal tumbuhan itu menggembung mirip serai.
Mba Irwin mengamati batang Gavata yang dipegang Rafa. Sebagai Peacemaker merangkap aktivis lingkungan, Mba nyaris hafal berbagai jenis tumbuhan dan binatang di hutan. Mba mengenali rumput Gavata sebagai tumbuhan yang masih sekerabat dengan tebu. Artinya pangkal Gavata mengandung cairan yang dapat diperas airnya.
Mba Irwin mencabut sebatang Gavata, lalu memeras pangkalnya. Ia menyesap cairan kental yang keluar dari pangkal Gavata.
“Cobalah, rasanya semanis jeruk,” kata Mba Irwin.
Agak ragu, Rafa mencicipi air perasan pangkal batang Gavata. Rasanya memang mirip air jeruk, tapi lebih kental dan lengket. Cairan itu lebih mirip getah.
Ekor mata Rafa menangkap gerak seekor belalang besar yang melintas di rerumputan. Ia melecutkan cambuk api ke arah belalang itu. Dalam sekejab, belalang itu telah menjelma belalang panggang. Aroma daging belalang bakar menggoda selera.
Rafa membelah belalang itu menjadi dua. Setengahnya ia berikan pada Mba Irwin. “Makanlah, rasanya tak jauh beda dengan udang bakar,” kata Rafa.
“Makasih.” Mba Irwin menyantap belalang bakar pemberian Rafa.
Tiba-tiba terdengar suara petir mengelegar di angkasa. Kilatan petir menandai munculnya hologram di langit Cachani Vadhi.
Rafa dan Mba mendongak. Menyaksikan pidato Thurqk yang disiarkan secara langsung dari Devasche Vadhi.
Pandangan 22 orang yang berada di Cachani Vadhi tertuju ke layar hologram di langit. Menatap lekat-lekat tampang sangar Thurqk yang sedang berpidato.
Dengan suara menggelegar, Thurqk melancarkan terror kepada para peserta. Ia menayangkan adegan penyiksaan para peserta yang gagal di ronde pertama. Sejumlah 11 orang disiksa secara sadis di hadapan 44 peserta yang tersisa.
Rafa memalingkan muka. Ia tak tega menyaksikan kesadisan Thurqk. Bukan ketakutan yang muncul di hati Rafa, melainkan kebencian. Tangannya mengepal dan berasap. Menahan kemarahannya atas tindakan Thurqk.
Rafa menoleh ke arah Mba Irwin yang sedang meremas tangannya. Ia bisa merasakan kecemasan Mba. Terbaca olehnya perasaan Mba yang bergejolak menyaksikan kekejaman Thurqk.
Layar hologram berganti menayangkan peraturan dan pembagian zona pertarungan ronde kedua. Zona pertarungan terdiri dari 7 pulau dengan 7 keanehan yang berbeda. Rafa terpilih menjadi peserta di pulau Wyrn beserta 6 peserta lain. Sedangkan Mba Irwin terpilih menjadi peserta di pulau Tvr.
Hologram Thurqk lenyap. Digantikan dengan kedatangan serombongan Hvyt menyerbu Cachani Vadhi. Hvyt mencengkeram para peserta dan bergegas membawa mereka pergi ke zona turnamen.
Rafa dan Mba Irwin masih bergandengan tangan ketika Hvyt memisahkan. Keduanya tak berdaya melawan kekuatan Hvyt. Mereka pasrah saat Hvyt menerbangkan keduanya ke pulau yang berbeda.
Silakan baca kisah Rafa selanjutnya pada tautan berikut:
http://battle-of-realms.blogspot.com/2014/05/round-2-wyrn-rafa-grafito.html
Minggu, 03 Agustus 2014
Menjelang Pertarungan
"Hm, perempuan perkasa," gumam Rafa.
Rafa menghirup udara. Menguji kepekaannya mendeteksi kandungan molekul di udara. Rafa menemukan molekul yang diinginkannya, nitrogen. Ia ingin membuat sesuatu dengan nitrogen.
Rafa tersenyum. Ia memandangi pengamen cilik dan gadis pantomim yang masih asyik mengobrol. Rafa ingin mencoba beramah- tamah dengan keduanya. Ia berlari ke utara menghampiri mereka.
"Hai, aku Rafa. Namamu siapa, Dik?" sapa Rafa sembari mengajak bersalaman.
Bocah berbaju hijau itu menyalami Rafa. "Saya teh Ucup. Kak Rafa teh dari mana asalna?"
"Jakarta." Rafa membaca pikiran Ucup sejenak. Kini, ia tahu tentang kisah kehidupan Ucup yang memprihatinkan.
Rafa beralih pada gadis pantomim. Ia bisa berjabat tangan dengan gadis bernama Colette itu, tapi kesulitan memahami pikiran gadis Perancis itu.
"Senang bisa berkenalan dengan pantomim ramah sepertimu, Colette."
"Sama-sama," sahut Colette riang.
"Apa kalian haus?" tanya Rafa.
Ucup dan Colette menggangguk.
"Sebentar, akan kuambilkan buah segar untuk kalian," pamit Rafa sambil berjalan menghampiri pohon Rachta.
Rafa menepis prasangka buruk yang muncul dalam benaknya. Ia mulai mengerti bahwa tak boleh gegabah di tempat itu Paling tidak ia harus menghemat tenaga untuk antipasi segala kemungkinan yang akan terjadi.
Hembusan angin menggoyangkan dahan pohon Rachta. Menimbulkan suara gemerisik dedaunan yang bergesekan. Angin yang sejuk dan bersahabat.
Rafa kembali menemui Ucup dan Colette dengan 3 buah Rachta di tangannya. Ia membagikan buah itu pada keduanya.
“Jangan dimakan, Ucup!” cegah Colette. Ia menatap Rafa curiga. “Bukankah tadi kamu keracunan makan buah ini?” tanya Colette.
“Tidak, aku cuma tersedak tadi. Lihat ini,” Rafa membelah buah Rachta menjadi 2 bagian. Lalu menyentuh buah itu dengan tangan kanannya yang berpendar kebiruan. Buah berair itu membeku menyerupai es krim. Rafa mengunyah buah itu. Kali ini ia merasa buah itu manis dan segar.
“Apa tadi itu nitrogen cair?” selidik Colette.
“Mau, saya sudah lama pengen es krim tapi belum kesampaian,” celetuk Ucup. Ia menyodorkan buah Rachta yang terbelah pada Rafa.
Rafa menyiramkan nitrogen cair pada buah Rachta Ucup. Ia melakukannya dengan hati-hati agar semprotan nitrogennya tidak membekukan tangan Ucup.
“Hore! Ucup bisa makan es krim. Haturnuhun Kak Rafa,” kata Ucup girang sambil menjilati es krimnya.
Rafa memunggut dan membuka buntelan itu. Ia menemukan sebilah pedang, senapan laser dan sebuah agenda dalam buntelan itu. Ia segera memasukkan senapan laser dan agendanya ke kantong hoodie. Sedangkan pedang itu ia ikat dengan pilinan kain buntelan lalu ia lingkarkan di pinggang.
“Sebaiknya kita agak menyingkir agar tak terkena imbas perkelahian mereka,” ajak Rafa. Ia menggandeng Ucup. Mengajaknya menjauh dari kerumunan orang yang sedang berkelahi.
* Collette terdiam ketika seseorang mengatakan hal yang tidak dimengerti Ucup. Hanya kata 'badut' yang dia tangkap dari ucapannya. Sedikit senyum pada bibir Ucup, karena dia memang menganggap collette lucu seperti badut. Tapi hal yang membuat Ucup makin senang adalah hadirnya seorang pria muda. Menyalaminya dan memberinya buah yang dirubah menjadi es krim. Rafa,orang kedua yang entah mengapa mendekati Ucup layaknya Collette.
Ucup melirik sekilas pada buntelan yang jatuh di dekat Rafa. Memperhatikan saat Rafa membereskannya. Melirik pada Collette dan melihatnya memicingkan mata, memandang curiga pada Rafa. Ucup sendiri sedikit bergidik melihat pedang yang kini terikat di pinggang Rafa.
Mereka menjauh dari kerumunan orang yang berkelahi. Berhenti di bawah pohon berwarna merah. Ucup menghabiskan es krim nya. Melirik Rafa yang memeperhatikan perkelahian beberapa makhluk di depan mereka. Berpindah melirik Collette yang tak hentinya memandangi Rafa dengan tatapan curiga. Tak tertahan, Ucup pun berkata.
"Kak Rafa, Teh Collette, itu mereka berantem kenapa ya? pasea terus ih."
Mereka diam tak menjawab. Entah karena tak tahu jawabannya atau karena suara Ucup tidak begitu jelas bagi mereka.
"Kak Rafa" Ucup menyentak tangan Rafa yang menggandengnya.
"Ya?" Rafa terlihat kaget dengan ulah Ucup.
"Itu pedang sama pestol tadi buat apa?"
Rafa diam. Colltte tersenyum senang mendengar pertanyaan Ucup yang tiba-tiba. *
“Pedang dan senapan ini untuk jaga diri dari serangan para dedemit itu,” jawab Rafa sambil menunjuk makhluk berjubah hitam yang membawa tongka bersabit. Sosok dewa kematian ang menyeramkan.
“Tunggulah sebentar,” Rafa bergegas memanjat pohon Rachta dengan pedang di tangan. Ia menebas dedaunan beserta rantingnya. Ia berharap dedaunan Rachta dapat digunakan untuk mengobati Alvin.
“Makasih,” ucap Alvin sambil menahan nyeri.
* Memang tangan Alvin bisa tumbuh sendiri dengan sel lizardnya, tapi dia takjub akan khasiat dari tumbuhan rachta ini.
"Terimakasih ya, Rafa"
"Kau bilang apa?"
"Tidak, tidak apa-apa. Aku cuma kesal dengan nona kelinci ini, berani sekali dia melukaiku"
"Sabar, dia cuma seorang anak kecil"
"Semuanya sama di hadapanku, mari bermain nona" ucap Alvin sambil menghunuskan pedang kearah luna.
Alvin berlari kearah luna, tapi dia menembakkan senjatanya kearah kaki Alvin, sehingga membuat lubang yang dalam. Tapi, Alvin berhasil melompat dan membuat sayatan dikaki kanannya luna yang mengandung racun V-125. Tubuh Luna lemas seketika.
"Tamatlah riwayatmu, nona kelinci" *
Ketika keadaan kembali tenang, Rafa bergegas menolong Luna yang terluka parah. Rafa sibuk mengobati Luna hingga tak menyadari bahwa Ucup telah pergi bersama Hvyt. Makhluk bersayap hitam itu membawa Ucup terbang membumbung tinggi. Melesat kemudian hilang dari penglihatannya.
Puluhan Hvyt masih berdiri membentuk formasi yang membentengi tempat itu. Rafa memperhatikan makhluk itu satu per satu. Terlihat serupa satu sama lain, layaknya kembar identik. Rafa mencari salah satu diantara para Hvyt yang menurutnya Hvyt yang asli, bukan duplikat. Pilihannya jatuh pada Hvyt yang paling kanan. Hvyt yang memiliki bekas luka di pelipisnya. Kemungkinan itu Hvyt yang pernah berkelahi dengan Freon tempo hari.
"Jaga dirimu, Luna. Aku harus pergi," pamit Rafa sambil mengusap rambut Luna.
Rafa meraih lengan sesosok Hvyt. Ia berusaha membaca pikiran makhluk itu. Tapi ia gagal, yang terlihat olehnya hanyalah kegelapan pekat. Rafa pasrah saat Hvyt membawanya terbang. Membumbung tinggi kemudian melesat ke suatu tempat bernama Devasche Vadhi.
Minggu, 27 Juli 2014
Perjamuan di Jagatha Vadhi
Cahaya menyilaukan muncul saat Rafa membuka mata. Kemudian ia mendapati pemandangan ganjil di sekelilingnya. Daratan luas berwarna merah darah, dengan sekumpulan makhluk aneh yang berada di tempat itu. Termasuk makhluk besar bersayap hitam yang pernah menyerangnya tempo hari. Makhluk bernama Hvyt itu berjumlah banyak dan tampak serupa bagai pasukan yang menjaga tempat itu.
"Jagadha Vadhi? Dewa Thurqk? Alam kematian? Omong kosong!" gumam Rafa sambil menyimak perkataan Hvyt. Pikiran Rafa membantah semua perkataan Hvyt. Ia merasa dirinya masih hidup. Ia menduga dirinya telah diculik anak buah Helios dan akan dijadikan kelinci percobaan dalam riset ilmiah mereka.
Rafa memutar otak, mencari celah untuk melarikan diri dari tempat itu. Ia mengamati sekumpulan makhluk di sekelilingnya. Sebagian di antara mereka terlihat normal, berpenampilan layaknya manusia pada umumnya. Ada laki-laki dan perempuan sebaya, remaja, dan anak-anak. Sebagian lainnya tampak seperti makhluk jadi-jadian, sejenis mutan, siluman, bahkan 2 makhluk jelly kenyal warna biru juga berdiri di sana.
Rafa menghampiri mereka. Mencari Shiren yang kemungkinan juga berada di tempat itu. Sayangnya, ia tak menemukan Shiren di antara mereka. Ia malah bertemu dengan para gadis dengan tatapan mata yang sinis.
Rafa tak sudi berlama-lama di tempat itu. Ia harus segera pergi untuk menyelamatkan Shiren. Disaat para Hvyt meninggalkan tempat itu, Rafa memanjat pohon Ratcha yang tumbuh dengan lebat. Ia menduga tempat itu berada di atas awan atau paling tidak berada di atas ketinggian setara dengan gunung karena ia dapat melihat gumpalan awan berarak di dekat tempat itu.
Rafa memeriksa pakaiannya. Ia memakai hoodie yang terbuat dari parasut, agak mirip dengan wingsuit miliknya. Pakaian yang bisa membantunya melayang di udara.
Rafa telah berada di puncak pohon dan langsung melompat. Ia sempat melayang di udara sejenak. Namun sebuah sulur tiba-tiba melilit kakinya. Sulur tersebut menyeret Rafa. Lalu menghempaskannya ke daratan Jagadha Vadhi dengan keras.
"Argh! Hidungku!" keluh Rafa yang merasakan hidungnya patah terbentur lantai pualam.
Seekor boneka beruang sedang berlari dikejar oleh seorang gadis penyuka permen. Seorang lelaki bangsawan sedang bercakap-cakap dengan sang pustakawan. Gadis yang dikerubuti lalat sedang berbicara dengan perempuan bertopi hitam. Gadis tak bermulut sedang bersama si pemelihara harimau. Adapula orang yang tertidur di bawah pohon. Rafa mendengus.
"Tidak adakah orang normal di sini?" Ia heran melihat mereka yang tampak menikmati berada di tempat itu. Tak ada yang berniat kabur seperti dirinya.
Rafa sempat ingin berkenalan dengan mereka. Tapi ia segera menepis keinginannya. "Ah, masa bodoh dengan mereka. Bisa jadi mereka kaki tangan Helios. Tak ada yang bisa dipercaya di tempat asing seperti ini," batin Rafa.
Rafa beranjak mendekati pohon Rachta. Ia memperhatikan pohon merah itu dengan seksama. Pohon besar dengan buah warna merah darah. "Mana sulurnya?" Ia tak menemukan sulur yang telah membantingnya tadi.
Rafa menghela napas. Ia mencoba mengalihkan perhatian sulur itu dengan memetik buah Rachta. Sulur itu malah melepas lilitan di kaki Rafa. Membiarkan Rafa memetik buah Rachta sepuasnya. Rafa meloncat turun dari pohon. Sulur itu tak bereaksi.
Rafa duduk bersandar di bawah pohon dengan banyak buah Rachta di pangkuannya. Ia ragu untuk memakannya karena baru kali ini ia melihat buah semacam itu. Buah itu beraroma manis. Dan sepertinya cocok untuk menyegarkan kerongkongannya yang kering. Tapi Rafa curiga jika buah itu beracun.
Kemudian disambung dengan perkataan Hvyt : "...Tenang saja, kalian akan merasa hidup sepenuhnya, namun tidak akan bisa mati untuk kedua kalinya."
"Tak ada salahnya dicoba," gumam Rafa sambil menggigit buah Rachta. Rasanya hambar dan membuat lidahnya kebas. Kerongkongannya terasa tercekik. Disusul sesak napas, kepala pening dan halusinasi. Gejala keracunan.
Cincin raksasa itu muncul dalam penglihatan Rafa. Pemandangan yang semula samar, kini menjadi jelas. Rangkaian kejadian itu menjadi kenangan yang melengkapi ingatannya. Kenangan masa kecilnya saat berada di planet Gliese 518g bersama Freon. Rafa kecil sedang berlatih kemampuannya mengendalikan elemen di bawah pengawasan Freon. Rafa ingat jika Freon memanggilnya dengan nama Grafit.
Freon mengajari Rafa memunculkan api dengan menjentikkan jarinya. Rafa berhasil melakukannya setelah beberapa kali mencoba. Kemudian Freon mengajari Rafa mengendalikan elemen air dan udara. Bukan hanya mengendalikan elemen yang tersedia, melainkan mematerialisasikan partikel dan molekul bebas di udara menjadi zat cair, gas dan api. Molekul yang sering digunakan adalah uap air, oksigen, hydrogen, karbondioksida dan nitrogen. Freon menegaskan jika Rafa harus tanggap dengan kandungan zat-zat tersebut di sekitarnya. Mengenali keberadaan mereka dan mengunakannya secara tepat.
Suara ledakan di kejauhan mengejutkan Rafa. Ledakan itu berasal dari laboraturium tempat Ayahnya bekerja. Rafa bergegas berlari menuju sumber ledakan.
Freon mencegat langkah Rafa. Ia membopong Rafa dan membawanya menjauh dari tempat itu.
“Tenanglah, Nak. Ayahmu bisa menjaga diri. Kita harus secepatnya pergi dari planet ini sebelum kehancuran terjadi.” Freon memaksa Rafa masuk ke dalam pesawat luar angkasa dan mengekangnya dengan sabuk pengaman di kursi.
Pesawat lepas landas meninggalkan planet Gliese 518g yang mulai mengalami keruntuhan. Dari monitor pesawat, Rafa melihat menara katai merah meledak dan hancur.
“Kencangkan sabuk pengamanmu. Bersiaplah, kita akan melintasi portal dimensi menuju Bumi,” perintah Freon sambil menembakkan laser pencipta mini ‘black hole’ ke angkasa.
Portal antar dimensi terbuka. Pesawat itu melesat dan terhisap ke dalam pusaran kegelapan. Kemudian muncul di sekitar atmosfer Bumi. Keberadaan portal antar dimensi sanggup memperpendek jarak tempuh dari planet Gliese 518g menuju Bumi.
Rafa berusaha memuntahkan buah Rachta yang tersangkut di kerongkongannya. Cuilan buah itu bagai mata pancing yang menusuk dinding kerongkongan. Setelah bersusah payah, akhirnya cuilan buah Rachta bisa ia keluarkan. Rafa menghela napas lega. Ia berusaha menenangkan diri sebelum melakukan hal lain.
Rafa masih duduk di tanah. Ia mencoba menjentikkan jemari-nya. Dan ada percikan api muncul di tangannya. Rafa menyeringai. Ia berdiri lalu menatap pohon Rachta dengan wajah kesal. Pohon itu telah dua kali mencelakainya. Diam-diam Rafa memantik api dengan jemarinya. Ia ingin membakar pohon Rachta sebagai balasan karena telah mencelakainya.
“Hai gadis penunggu pohon, suruh pohonmu berhenti menggangguku!” teriak Rafa dari bawah pohon.
Gadis hijau itu menoleh. “Hai Rafa, namaku Nema. Sebaiknya kau berhenti berulah agar tak celaka.” Nema terlihat enggan menanggapi pemuda pecicilan itu.
“Aku hanya ingin keluar dari tempat ini, tapi pohonmu selalu menghalangiku,” protes Rafa.
“Hei anak muda, tidak sopan membentak perempuan!” tegur seekor harimau bertampang jinak yang menghampiri mereka.
“Kamu keliru, aku Eza, peliharaan Tuanku Kara. Dan gadis pendiam itu bernama Silia,” jawab Eza.
Nema menoleh pada Eza dan tersenyum. Lalu melanjutkan obrolan menariknya dengan Stela. Ia tak berminat berdebat dengan Rafa. Tapi diam-diam ia menaburkan serbuk benih ke tubuh Rafa. Benih tumbuhan penyebab gatal. Serbuk itu jatuh di tudung hoodie Rafa yang terbuka. Stela terkikik menyaksikan perbuatan Nema.
“Oh, rupanya kamu harimau penyuka para gadis.” Rafa mendongak mendengar suara cekikikan Stela. “Hei! Apa yang kalian tertawakan?” bentak Rafa pada Nema dan Stela.
“Ada kebun rumput di tudungmu, hihihi…” sahut Stela sambil cekikikan.
“Sial! Dasar benalu!” umpat Rafa sambil menggaruk dan membuang rerumputan itu. Rafa belingsatan tersiksa rasa gatal. Ia mendengus kesal. Menahan amarah yang menguasainya. Ia tak tega melampiaskan amarahnya pada kedua gadis itu.
“Nona Nema, sebaiknya berikan obat penawar pada Rafa. Kasihan dia,” saran Eza.
“Biarkan saja, Eza. Rerumputan itu takkan melukainya. Cuma membuatnya gatal sementara waktu,” kilah Nema.
“Iya, biarkan saja. Dia pantas mendapatkannya,” Stela menimpali.
Rerumputan itu layu terkena asap. Rafa terbebas dari gatal-gatal yang menyiksanya. Ia menyingkirkan rerumputan yang telah layu dan melemparnya jauh-jauh.
“Benalu menyebalkan!” maki Rafa.
Rafa merebahkan dirinya di tanah. Menjadikan kedua tangannya sebagai bantal. Ia membandingkan nasib bocah kumal itu dengan dirinya. Bagai langit dan bumi. Rafa hidup berkecukupan sebagai anak pejabat korup sedangkan bocah itu nelangsa dan serba kekurangan.
Di saat pengamen cilik itu berpanas-panasan mengumpulan recehan, maka Rafa tinggal menadahkan tangan pada Ayahnya. Ia cukup menanyakan pada Ayahnya, “Adakah buah apel yang perlu dicuci atau kukupaskan, Papa?”. Seketika uang hasil korupsi itu mengalir ke rekeningnya. Rafa pandai mengatur keuangan dan berinvestasi. Sejauh ini gurita bisnis keluarganya lancar dan aman dari endusan pihak berwajib.
Ia merasa beruntung karena Freon memilihkan keluarga pejabat sebagai orangtuanya. Meskipun ia tak dapat mengingkari siksaan rasa bersalah ketika mengingat bahwa ada seorang anak yang telah dikorbankan demi dirinya. Freon membiarkan seorang anak mati tenggelam di bendungan demi memasukkan Rafa ke rumah pejabat itu.
“Anggaplah kamu menjadi peri pengganti dari bocah mati itu. Changeling. Kehadiranmu mengambil alih dan melanjutkan kehidupannya yang telah berakhir,” pesan Freon.
“Tidak mau! Aku akan menolong bocah itu. Kasihan dia,” bantah Grafit. Ia berusaha mengendalikan pusaran air agar bocah itu terangkat dari dasar bendungan. Usahanya sia-sia, kekuatannya terlalu lemah untuk mengangkat bocah itu.
“Percuma! Bocah itu telah mati, Grafit!” tegas Freon.
“Kita masih bisa menolongnya!” kilah Grafit. Ia menyesal karena tak segera menolong bocah itu saat jatuh tergelincir. Ia malah menuruti perintah Freon untuk membiarkannya.
Freon membopong Grafit. Mengajaknya menghampiri sekumpulan anak yang berkumpul di pinggir sungai. Mereka sedang bermain ‘leng pendem’, sejenis meriam bambu dengan peledak dari karbit. Freon membimbing para bocah itu membuat sebuah permainan baru yang lebih seru. Ia membuat rakit dari bilah bambu. Rakit yang cukup besar untuk mengangkut 7 anak sekaligus. Kemudian Freon memasang belasan meriam bambu sebagai roket pendorong rakit itu.
Anak-anak antusias dengan mainan baru yang dianggap keren itu. Mereka berebut menaiki rakit. Grafit patuh ketika Freon menyuruhnya ikut naik rakit.
Freon beraksi menyulut meriam bambu. Anak-anak bersorak kegirangan. Rakit itu meluncur di sungai. Mereka menganggap rakit itu layaknya kapal speedboat. Permainan bajak laut dimulai.
Permainan Freon juga dimulai. Mendadak rakit itu meledak dan terbakar. Anak-anak itu jatuh ke sungai. Mereka hanyut terseret arus sungai, termasuk Grafit.
Rafa meraba luka bakar di dagunya. Kenang-kenangan dari peristiwa naas itu. Akibat ledakan rakit itu, tubuh Grafit mengalami luka bakar parah pada bagian wajahnya. Sehingga keluarga bocah tenggelam itu salah mengenali Rafa sebagai anaknya. Grafit sempat mengelak dan mengakui bahwa dirinya bernama Grafit bukan Rafa yang mereka cari. (Bocah yang mati tenggelam di bendungan bernama Rafa). Namun keluarga Rafa tetap bersikukuh menganggapnya anak. Bahkan mereka membawanya keluar negri untuk menjalani operasi rekonstruksi wajah.
Usai operasi, wajahnya kembali pulih kecuali bekas luka bakar sepanjang 5cm di dagu. Bekas luka itu tak bisa hilang hingga ia dewasa. Karena merasa berhutang budi, ia bersedia menjadi anak mereka dengan syarat penambahan nama menjadi Rafa Grafito.



