“Petani, bedebah kalian! Keluarga dan teman-temanku kalian bantai dengan kejam!” umpat seekor ulat yang berjalan sempoyongan. Ulat itu klenger terkena semprotan cairan pembasmi hama.
Sepenggal adegan dalam iklan pembasmi hama tersebut melintas di benak Rafa saat ia tiba di Cachani Vadhi. Dan kejadian berikutnya berkebalikan dengan adegan iklan. Beberapa ulat raksasa menyembul dari akar rerumputan warna merah setinggi 2 meter.
Ulat-ulat itu berukuran setengah meter. Mereka mengunyah rumput dengan lahap. Sesekali mata besarnya menoleh ke arah Rafa.
Rafa melangkah mundur ketika seekor ulat menghampirinya. Rafa merogoh senapan laser di sakunya. Bersiap menembak.
“Jangan!” cegah Mba Irwin yang telah berdiri di hadapan Rafa. Kedua tangannya terentang menghalangi Rafa menembak ulat itu.
Ulat itu beringsut menjauh dari Rafa dan Mba Irwin. Lalu menghilang di balik rimbun rerumputan.
“Syukurlah, kamu selamat, Mba Irwin,” kata Rafa sambil memegang kedua bahu Mba.
“Seharusnya aku bisa bertemu Antakaba jika makhluk bersayap itu tidak muncul menyelamatkanku.” Mba Irwin menepis tangan Rafa dari bahunya.
Rafa tersenyum mendengar bunyi perut Mba Irwin. Ia juga merasa lapar usai bertarung di ronde pertama.
Rafa mengajak Mba Irwin mencari makanan. Tak ada pohon Rachta di tempat itu. Yang ada hanyalah rerumputan sejenis ilalang bernama Gavata.
Rafa mencabut sebatang Gavata. Berharap menemukan umbi pada akarnya. Nihil. Akarnya hanya akar serabut bukan umbi. Pangkal tumbuhan itu menggembung mirip serai.
Mba Irwin mengamati batang Gavata yang dipegang Rafa. Sebagai Peacemaker merangkap aktivis lingkungan, Mba nyaris hafal berbagai jenis tumbuhan dan binatang di hutan. Mba mengenali rumput Gavata sebagai tumbuhan yang masih sekerabat dengan tebu. Artinya pangkal Gavata mengandung cairan yang dapat diperas airnya.
Mba Irwin mencabut sebatang Gavata, lalu memeras pangkalnya. Ia menyesap cairan kental yang keluar dari pangkal Gavata.
“Cobalah, rasanya semanis jeruk,” kata Mba Irwin.
Agak ragu, Rafa mencicipi air perasan pangkal batang Gavata. Rasanya memang mirip air jeruk, tapi lebih kental dan lengket. Cairan itu lebih mirip getah.
Ekor mata Rafa menangkap gerak seekor belalang besar yang melintas di rerumputan. Ia melecutkan cambuk api ke arah belalang itu. Dalam sekejab, belalang itu telah menjelma belalang panggang. Aroma daging belalang bakar menggoda selera.
Rafa membelah belalang itu menjadi dua. Setengahnya ia berikan pada Mba Irwin. “Makanlah, rasanya tak jauh beda dengan udang bakar,” kata Rafa.
“Makasih.” Mba Irwin menyantap belalang bakar pemberian Rafa.
Tiba-tiba terdengar suara petir mengelegar di angkasa. Kilatan petir menandai munculnya hologram di langit Cachani Vadhi.
Rafa dan Mba mendongak. Menyaksikan pidato Thurqk yang disiarkan secara langsung dari Devasche Vadhi.
***
Pandangan 22 orang yang berada di Cachani Vadhi tertuju ke layar hologram di langit. Menatap lekat-lekat tampang sangar Thurqk yang sedang berpidato.
Dengan suara menggelegar, Thurqk melancarkan terror kepada para peserta. Ia menayangkan adegan penyiksaan para peserta yang gagal di ronde pertama. Sejumlah 11 orang disiksa secara sadis di hadapan 44 peserta yang tersisa.
Rafa memalingkan muka. Ia tak tega menyaksikan kesadisan Thurqk. Bukan ketakutan yang muncul di hati Rafa, melainkan kebencian. Tangannya mengepal dan berasap. Menahan kemarahannya atas tindakan Thurqk.
Rafa menoleh ke arah Mba Irwin yang sedang meremas tangannya. Ia bisa merasakan kecemasan Mba. Terbaca olehnya perasaan Mba yang bergejolak menyaksikan kekejaman Thurqk.
Layar hologram berganti menayangkan peraturan dan pembagian zona pertarungan ronde kedua. Zona pertarungan terdiri dari 7 pulau dengan 7 keanehan yang berbeda. Rafa terpilih menjadi peserta di pulau Wyrn beserta 6 peserta lain. Sedangkan Mba Irwin terpilih menjadi peserta di pulau Tvr.
Hologram Thurqk lenyap. Digantikan dengan kedatangan serombongan Hvyt menyerbu Cachani Vadhi. Hvyt mencengkeram para peserta dan bergegas membawa mereka pergi ke zona turnamen.
Rafa dan Mba Irwin masih bergandengan tangan ketika Hvyt memisahkan. Keduanya tak berdaya melawan kekuatan Hvyt. Mereka pasrah saat Hvyt menerbangkan keduanya ke pulau yang berbeda.
***
Silakan baca kisah Rafa selanjutnya pada tautan berikut:
http://battle-of-realms.blogspot.com/2014/05/round-2-wyrn-rafa-grafito.html
Keep writing :)
BalasHapus